Marhaenisme di Malaysia


Setidaknya ada tiga partai politik yang berasaskan Marhaenisme di Malaysia, yakni : 

(1) Partai Rakyat Malaysia (PRM). Didirikan 11 November 1955. Ideologi : Marhaenisme. Posisi  sayap-kiri. Memperjuangkan hak-hak kaum proletar. Pendiri Ahmad Boestamam.

(2) Partai Marhaen Malaysia (PMM) dengan ciri sosio-nasional-demokrasi. Berdiri pada  20 Juli 1968. Ideologi:  Marhaenisme. Posisi :  sayap-kiri. Memperjuangkan hak-hak kaum proletar . Pendiri: Ahmad Boestamam.

(3) Partai Kekuatan Rakyat dengan semboyan kuasa rakyat, milik rakyat. Berdiri pada 10 Oktober 2021 dengan ideologi demokrasi sosial, nasionalisme,dan Marhaenisme. Posisi : Kiri-tengah dan memperjuangkan hak-hak kaum proletar. Didirikan oleh Kamarazaman Yaakob. (p2k.stekom.ac.id)


Tentang Partai Rakyat Malaysia (PRM)

Partai Rakyat Malaysia (singkatan: PRM; bahasa Melayu: Parti Rakyat Malaysia) adalah partai politik di Malaysia. Didirikan pada 11 November 1955 dengan nama Partai Ra'ayat, partai ini adalah salah satu partai politik tertua di Malaysia dan menelusuri silsilahnya hingga gerakan anti-kolonial dari periode sebelum Perang Dunia II seperti Kesatuan Melayu Muda. (Syed Husin, Merdeka-era leaders lost to the nation, Malaysiakini.com, 23 September 2021)

Mereka adalah bagian dari koalisi Front Sosialis Rakyat Malaya dengan Partai Buruh Malaya dan menjadi kekuatan pada akhir tahun 1950-an dan 1960-an meskipun koalisi tersebut akhirnya dihancurkan oleh penahanan bermotif politik. (Syed Husin, Konfrontasi and the early days of Malaysia,  Malaysiakini.com. 23 September 2021)


Siapa Ahmad Boestamam 

Dalam artikel  Ahmad Boestamam, Aktivis Anti-Kolonial Keturunan Tanah Datar nan Mendirikan Partai Rakyat Malaya, disebutkan bahwa Ahmad Boestamam, yang terlahir dengan nama Abdullah Thani bin Raja Kechil, adalah seorang aktivis politik anti-kolonial Inggris di Malaysia yang dikenal sangat radikal dan pemberani.

Ia merupakan orator ulung sekaligus penulis berbakat yang menggunakan kekuatan pena untuk membakar semangat kemerdekaan melalui koran Suara Rakyat yang ia dirikan pada tahun 1945.

Atas jasa dan kontribusinya dalam sejarah perjuangan bangsa, ia dianugerahi penghargaan Panglima Negara Bintang Sarawak pada tahun 1976 dengan gelar Datuk, sebuah penghormatan tinggi bagi seorang pejuang nasionalis.


Asal-Usul dan Masa Kecil

Ahmad Boestamam lahir pada 30 November 1920 di Behrang Ulu, Perak, dari pasangan Raja Kechil dan Rasiah. Kedua orang tuanya adalah petani gigih yang bermigrasi dari Tanah Datar, Sumatera Barat, untuk mencari kehidupan baru di Semenanjung Melayu.

Meskipun tumbuh di keluarga petani, Boestamam mendapatkan pendidikan yang cukup baik dengan bersekolah di Sekolah Melayu Behrang Ulu sebelum melanjutkan ke Anderson School di Ipoh.

Latar belakang sebagai anak migran Minangkabau memberikan pengaruh kuat pada karakter kepemimpinan dan semangat perantauannya yang ia konversi menjadi gerakan politik lintas wilayah di kemudian hari.


Awal Karir di Dunia Kewartawanan

Karir Boestamam bermula di dunia jurnalistik, sebuah profesi yang mempertemukannya dengan tokoh-tokoh besar seperti Abdul Rahim Kajai dan Ibrahim Yaakob. Ia tercatat sebagai wartawan yang sangat aktif di berbagai surat kabar mulai dari Saudara di Pulau Pinang hingga Utusan Melayu di Singapura.

Melalui tulisan-tulisannya, ia mulai mengupas secara tajam kelemahan ekonomi, sosial, dan politik masyarakat Melayu di bawah cengkeraman penjajah.

Pengalaman di meja redaksi ini menjadi titik rendah sekaligus awal perjuangannya, di mana ia melihat langsung ketimpangan sosial yang akhirnya mendorongnya masuk ke dalam arus nasionalisme Melayu yang sedang memuncak pada tahun 1930-an.


Titik Balik dan Perjuangan Politik Radikal

Titik balik besar dalam hidupnya terjadi ketika ia menerbitkan testamen politik API (Angkatan Pemuda Insaf) yang mengusung slogan berani "merdeka dengan darah." Akibat gagasan radikal ini, ia harus menghadapi berbagai tekanan dari pemerintah kolonial, termasuk denda besar hingga penahanan berkali-kali.

Boestamam merupakan pendukung setia gagasan "Melayu Raya" atau "Indonesia Raya," sebuah konsep penyatuan seluruh Kepulauan Melayu yang membuatnya sempat dituduh bekerja sama dengan pihak Indonesia pada masa konfrontasi.

Meski berulang kali keluar masuk penjara, semangatnya tidak padam; ia mendirikan Partai Rakyat Malaya dan sukses menjadi anggota parlemen wilayah Setapak pada tahun 1959. Di luar politik, ia juga meninggalkan warisan literasi yang kaya dengan menulis sedikitnya 15 novel yang merekam jejak perjuangan dan pemikirannya bagi generasi mendatang. (Wikipedia, 21 September 2026).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Mahabharata

Ki Ageng Suryomentaram