A.M. Azahari Pejuang Kemerdekaan Brunei
Perjuangan rakyat Brunei untuk kejayaan negerinya pupus akibat ulah segelintir orang yang menggunting dalam lipatan dan siasat kolonialis yang sarat kelicikan.
Ardanta Taufik, dosen di sebuah universitas swasta di Jakarta, masih ingat kala bersama sastrawan Pramoedya Ananta Toer berkunjung ke rumah A.M. Azahari di Bogor pada 1997. Azahari kaget lantaran selama ini jarang ada orang berkunjung ke rumahnya. “Kaget juga dia. Apalagi yang datang tokoh penting. Pramoedya Ananta Toer itu kan disegani,” ujarnya kepada Historia. (M.F. Mukhti, Historia.ID, 24 Mei 2023)
Mengenal Azahari
Sheikh Azahari bin Sheikh Mahmud (3 September 1928 – 3 September 2002), yang lebih dikenal sebagai A.M. Azahari, adalah seorang politikus Brunei yang beralih menjadi pemberontak. Lahir sebagai blasteran Arab-Melayu di Labuan, Partai Azahari memenangkan seluruh 16 kursi terpilih dalam dewan legislatif beranggotakan 33 orang dan sebagai politikus sayap kiri, Azahari sangat menentang gagasan Sultan agar Brunei menjadi anggota dalam Federasi Malaysia , bersama dengan Borneo Utara Britania (yang kemudian berganti nama menjadi Sabah), Sarawak dan Singapura.
Gagasan Kalimantan Utara awalnya diusulkan oleh Azahari, yang memiliki hubungan dengan gerakan nasionalis Sukarno, bersama dengan Ahmad Zaidi Adruce, di Jawa pada 1940an. Gagasan tersebut mendukung dan mencanangkan penyatuan seluruh teritorial Borneo yang berada di bawah kekuasaan Inggris membentuk sebuah negara Kalimantan Utara sayap kiri independen.
Azahari secara pribadi mendorong kemerdekaan Brunei dan bergabung dengan Borneo Utara Britania dan Sarawak untuk membentuk federasi dengan Sultan Brunei sebagai monarki konstitusional.
Namun, Partai Rakyat Brunei sepakat untuk bergabung dengan Malaysia dalam kondisi tiga teritorial Borneo utara yang disatukan dengan Sultan mereka sendiri, dan sangat menolak dominasi oleh Malaya, Singapura, para administrator Melayu atau para pedagang Tionghoa.
Proposal Kalimantan Utara dipandang sebagai alternatif pasca-dekolonisasi oleh oposisi lokal yang menentang rencana Malaysia. Oposisi lokal di seluruh teritorial Borneo utamanya berdasarkan pada perbedaan budaya, sejarah, politik dan ekonomi antara negara-negara Borneo dan Malaya, serta penolakan untuk menjadi subyek di bawah dominasi politik semenanjung.
Pada masa Pemberontakan Brunei, Azahari berada di Manila dan berupaya untuk menghindari penangkapan oleh pasukan Inggris dan Persemakmuran yang membantu meredam pemberontakan tersebut. Ia pernah terlibat dalam pemberontakan Limbang.
Setelah ia kalah, Azahari kabur ke Jakarta dimana ia mendapat suaka dari Presiden Sukarno pada 1963 dan tinggal dalam pengasingan di Kalimantan. A. M. Azahari kemudian meninggal pada 2002 di Bogor, Indonesia. Ia berusia 75 tahun.
Ia meninggalkan seorang istri dan lebih dari 10 anak. Azahari merupakan penyuara kuat melawan proposal yang dibuat oleh Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman Putra untuk menggabungkan Malaya, Sabah, Sarawak dan Brunei dalam rangka membentuk Malaysia.
Selain itu, Azahari, yang memimpin PRB dari masa pembentukannya pada 1956 sampai saat partai tersebut bubar pada 1962, mengusulkan pembentukan sebuah negara persatuan yang terdiri dari Brunei, Sarawak dan Borneo Utara. Walaupun cita-citanya untuk menyatukan Sarawak dan Sabah ke dalam Brunei tidak terwujud, namun setidaknya ia berhasil mencegah bergabungnya Brunei ke dalam Federasi Malaysia dan menjadi negara monarki absolut.
Hubungan Brunei dan Indonesia telah dimulai setidaknya sejak abad ke 14. Kitab Nagarakertagama dari 1365 M menyebut "Barune" (Brunei) sebagai salah satu negara bagian dari Kerajaan Majapahit.
Di era penjajahan Eropa, Indonesia jatuh ke tangan Belanda sebagai Hindia Belanda, sedangkan Brunei bersama Singapura dan Malaysia jatuh ke tangan Inggris.
Pada tahun 1960an Indonesia dan Brunei secara tidal langsung terlibat dalam tensi militer akibat Konfrontasi Indonesia-Malaysia, di mana Indonesia mengirim pasukan untuk menyusup ke Sarawak, Kalimantan Utara, termasuk Brunei. (Admin Indonesia 2045).
Pada bulan Desember 1962, Syekh A.M. Azahari , pemimpin Partai Rakyat Brunai, melancarkan suatu pemberontakan, yang tidak berlangsung lama, menentang pembentukan federasi dan memilih sebuah negara merdeka Kalimantan Utara. Azahari telah berada di Indonesia pada waktu revolusi dan terus menjalin hubungan dengan Nasution kemudian dengan Badan Pusat Intelejen Indonesia yang dipimpin Subandrio. (Ricklefs, 2005 : 537).
Bung Karno awalnya menerima pembentukan Malaysia. Tetapi Revolusi Anti-Malaysia di Brunai tidak memberinya pilihan lain selain membantu Brunai, apalagi banyak masyarakat Brunai yang telah membantu Indonesia selama masa perjuangan kemerdekaan, termasuk Azahari yang pernah menjadi Kapten dalam Angkatan Darat Indonesia. (Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams, Indianapolis: The Bobbs Merill Company, Inc, 1965 :300-301).
Protes Senyap Pelajar
Nampaknya perjuangan anti-Inggris masih tetap ada di Brunei. Berikut ini kutipan dari sebuah blog :
"Di tahun 1973 - 1975 wujud beberapa kumpulan baru gerakan pelajar yang anti penjajah British dan salah satu kumpulan pelajar tersebut dipelopori oleh Sdra, Yunos Haji Momin, Mohamad Zabidi Mohamad Daud, Shaari Akim, Zaini Razali dan Haji Saneh bin Haji Jaafar.
“Panglima” gerakan “Kumpulan Yunos Haji Momin” ialah Bung Asnan Othman sebagai mentor, mempunyai lebih 50 orang anggota kesemuanya terdiri dari pelajar Maktab Sultan Omar Ali Saifuddein (SOASC). Kumpulan pelajar ini rata-rata bereumur 17-18 tahun.
Pelajar dari aliran ugama juga aktif bergerak menyuntik semangat anti penjajahan British di kalangan pelajar aliran ugama dipimpin oleh Sdra Mahdi H.M. Suhaili. Antara kegiatan mereka ialah menyebar risalah dan poster anti penjajahan.
Apabila pihak Polis Cawangan Khas Brunei dapat mengesan bahawa ada sekumpulan pelajar berkira-kira untuk meruntuhkan patung Churchill tersebut, maka serta merta, tugu peringatan Churchill tersebut dibongkar dan disorokkan ke dalam sebuah stor kerajaan. Tapak itu kini dibangunkan pula Muzium Alat-Alat Kebesaran Diraja.
Kemudiannya, pada awal tahun 1974, seramai 32 orang daripada anggota “Kumpulan Yunos Haji Momin” melarikan diri ke perbatasan Sarawak, Malaysia dan menggabungkan diri dengan Parti Rakyat Brunei (PRB) yang ketika itu berpangkalan di Kuala Lumpur." (my-e-perjuangan.blogspot.com, 4 Februari 2018).
Komentar
Posting Komentar