Pembicaraan Empat Negara (Quadripartite Talks) : Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru dan Inggris
The Alliance between Australia and the United States began with the signing of the ANZUS Treaty (Australia, New Zealand, United States Security Treaty) in San Francisco in 1951. (USSC).
---
Suatu pertemuan ANZUS diadakan pada tanggal 16 Oktober 1963. Dalam pertemuan yang dihadiri tiga negara anggota ANZUS ditambah Inggris, Duta Besar Inggris untuk AS, Sir David Ormsby Gore, secara terang-terangan meminta negara-negara yang hadir untuk mendukung Tunku Abdul Rahman serta mendukung Federasi Malaysia yang baru dibentuk. Menurutnya, gagalnya Malaysia secara militer dan politis akan menempatkan seluruh kawasan Asia Tenggara dalam bahaya.
Selanjutnya Sir David Ormsby Gore mengeluh bahwa "Barat lebih suka ribut soal bagaimana menyelamatkan leher Sukarno daripada membantu Malaysia."
Australia mendukung pandangan Inggris dengan mengatakan bahwa politik untuk menentang Malaysia adalah bagian dari ambisi dan paranoia pemerintahan Sukarno, dan bahwa hal itu mesti dihentikan.
Selandia Baru mendukung pandangan Inggris maupun Australia. (Quadripartite Talks on Malaysia and Indonesia, 16 Oktober 1963, 2-8, Rogers Hilsman Papers, Countries: India, Harriman Mission, 11/62-Malaysia-Indonesia, Folder: Malaysia-Indonesia, Quadripartite Talks, 10/10/63-10/17/63, Kennedy Library).
AS Menyanggah
Averell Harriman yang mewakili pemerintahan Kennedy dalam pertemuan itu, menyatakan bahwa ancaman langsung terhadap Blok Barat di Kawasan Timur Jauh tidak berasal dari Indonesia tetapi dari Cina Komunis.
Ada kemungkinan kelompok Komunis akan mengambil alih Indonesia, tetapi AS yakin bahwa terdapat cara-cara tertentu untuk mencegah terjadinya hal tersebut.
AS percaya bahwa memberi tekanan yang terlalu besar kepada Presiden Sukarno tidak akan menyelesaikan persoalan. (Wardaya, 2008 : 333).
Harriman menyatakan bahwa AS tetap mendukung pembentukan sebuah negara Malaysia yang pro-Barat dan diperintah oleh orang Malaka, tetapi menolak untuk ikut dalam pertemuan yang bertujuan "mendesak seseorang untuk mengalah dalam hal tertentu."
Harriman yakin bahwa ada cara-cara yang tidak konfrontatif untuk mendesak Presiden Sukarno guna meninggalkan politik konfrontasinya, seperti dengan mengajaknya ikut serta dalam suatu pertemuan demi kerjasama regional dalam konteks Maphilindo.
Komentar
Posting Komentar