Maphilindo (Malaya-Philippine-Indonesia)


Menurut Ricklefs, keinginan AS untuk memulihkan hubungan dengan Jakarta sama besarnya dengan perasaan tanggung jawabnya kepada Inggris dan Malaysia. Presiden Sukarno dan banyak pemimpin Indonesia lainnya menginginkan bantuan AS dan menentang Malaysia pada waktu yang bersamaan. Selama beberapa bulan ditempuh upaya-upaya untuk merujukkan kepentingan- kepentingan tersebut.

Presiden Diosdado Macapagal dari Filipina semakin mempersulit masalah dengan mengajukan klaim atas Sabah atas dasar kaitannya dengan Kesultanan Sulu. 

Pada bulan Mei-Agustus 1963 diselenggarakanlah pertemuan-pertemuan tingkat menteri Indonesia - Malaysia - Filipina dan konferensi-konferensi tingkat puncak antara Presiden Sukarno, Macapagal dan Tunku Abdul Rahman dari Malaya. 

Untuk sementara, yang dibicarakan adalah sebuah konfederasi yang longgar antara ketiga negara tersebut yang dinamakan Maphilindo.

Pada bulan Agustus Malaya sepakat untuk mengadakan penyelidikan terhadap pendapat umum di Sarawak dan Sabah sebelum dibentuknya konfederasi. 

Sementara itu pada Juli, Brunai sudah menyatakan akan tetap di luar Malaysia. (2005 : 532-533). 

Cina menentang pembentukan Malaysia karena antara lain menolak adanya sebuah negara lain di Asia Tenggara yang pro Amerika seperti halnya Filipina, Thailand, dan Taiwan. Keterlibatan AS yang semakin jauh di Vietnam Selatan dipandang sebagai bagian dari upaya mendirikan sebuah negara pro AS.

Dengan memanfaatkan keturunan Cina perantauan yang berhaluan kiri dan bermukim di Malaka, Sarawak, dan Singapura, Cina berusaha menggagalkan pembentukan Malaysia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Mahabharata

Ki Ageng Suryomentaram