Bank Dagang Negara d/h Escompto Bank
Bank ini memulai sejarahnya pada tahun 1857 di Batavia (Jakarta) dengan nama Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij. Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij – NIEM didirikan di Batavia oleh Paulus Tiedeman Jr. dan Carl Frederik Wilhelm Wiggers van Kerchem pada tahun 1857 (Akta Notaris J.J. Mijnssen No. 132 tanggal 22 Agustus 1857 dan disahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Surat Keputusan No. 22 tang-gal 5 November 1857).
Setelah penyerahan ke-daulatan tahun 1949 namanya disingkat menjadi N.V. Escomptobank dan selanjutnya setelah dimiliki RI menjadi P.T. Escomptobank.
Pada tahun 1960 untuk menampung segala kegiatan, Escomptobank NV yang dinasionalisasi diubah menjadi Bank Dagang Negara (BDN).
Tugas bank tersebut adalah melakukan usaha bank umum dalam arti seluas-luasnya. Ketika pemerintah melakukan integrasi seluruh bank milik negara ke dalam bank tunggal BNI, BDN tidak ikut diintegrasikan ke dalam sistem bank tunggal tersebut.
Mengutamakan Sektor Pertambangan
Pemerintah Orde Baru menetapkan pendirian BDN dengan tugas dan usaha yang diarahkan pada perbaikan perekonomian rakyat dan pembangunan nasional dengan jalan melakukan usaha bank umum serta mengutamakan sektor pertambangan.
Pengumpulan Dana
Sebagai bank umum devisa, BDN mendapatkan dananya dari giro, deposito, valuta asing, likuiditas Bank Indonesia dan lain-lain. BDN lebih banyak bekerja atas pengumpulan dana sendiri dan tidak begitu tergantung pada dana/kredit likuiditas BI.
Kredit
Dalam beroperasi BDN menitikberatkan pemberian kredit jangka pendek (kredit eksploitasi) maupun kredit jangka panjang (investasi), kredit besar dan kecil.
Manajemen
Manajemen BDN terdiri atas Dewan Pengawas dan Dewan Direksi. Dewan Pengawas terdiri atas seorang Ketua dan beberapa anggota. Sedangkan Dewan Direksi terdiri atas seorang Direktur Utama dan beberapa Direktur. Dalam BDN dikenal beberapa Direktur Muda.
Perwakilan Luar Negeri
BDN memiliki kantor perwakilan di Singapura, New York dan Los Angeles (semarangkota.go.id; Bob Widyahartono, 2004 : 148)
Komentar
Posting Komentar