Nasution Menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB)


Presiden Sukarno menginginkan supaya kampanye untuk merebut Irian Barat menjadi alat untuk menggembleng Indonesia ke dalam momentum massa yang ia pandang sangat penting artinya bagi revolusi yang berkesinambungan dan sangat cocok dengan bakat-bakat kepemimpinannya. 

Pada bulan Desember 1961 dibentuk Komando Operasi Tertinggi (KOTI) bagi pembebasan Irian Barat. Presiden Sukarno menjadi panglimanya. Nasution mewakilinya dan Mayor Jenderal Achmad Yani menjadi kepala stafnya. Sedangkan Komando Mandala diketuai oleh Mayor Jenderal Soeharto.

Pada bulan Januari 1962, suatu pasukan Indonesia menderita kekalahan besar di laut Arafuru, di mana Komodor Yos Soedarso dan prajurit lainnya gugur. Angkatan Darat menuntut agar Suryadarma digantikan sebagai pimpinan Angkatan Udara karena tidak berhasil memberikan bantuan kekuatan udara yang cukup memadai. Presiden menggantinya dengan Marsekal Madya Omar Dhani.

Pada bulan Juni 1962, Nasution diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB) yang kosong sejak November 1953 sambil tetap menjadi Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan. Kedudukannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat digantikan Achmad Yani. (Ricklefs, 2005 : 533-534).

Saat  negara dalam keadaan bahaya lewat Undang-Undang Keadaan Bahaya (UUKB) pada Juli 1957, Nasution diangkat menjadi Ketua Gabungan Kepala-kepala Staf Angkatan Perang (GKS). Ia juga menjabat Penguasa Perang Pusat (Peperpu) dan diangkat menjadi anggota ex-officio Dewan Nasional dan anggota Panitia Tujuh dalam rangka penyelesaian masalah di daerah.

Setelah reorganisasi Angkatan Darat pada 1958, Nasution diangkat menjadi Menteri Keamanan Nasional/KSAD dan berpangkat letnan jenderal hingga Indonesia kembali ke UUD 1945 dan lahirnya Demokrasi Terpimpin. Periode Demokrasi Terpimpin tahun 1962, Nasution diangkat menjadi Menteri Koordinator (Menko) Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata dengan pangkat jenderal penuh (bintang empat). (news.detik.com).

Sebelumnya, pada bulan Maret 1962, Presiden mengangkat Aidit dan Nyoto sebagai menteri-menteri penasihat tanpa portfolio.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Ibukota Pindah ke Yogyakarta

Mahabharata