Herlina Kasim Si Pending Emas
Ahmad Cholis Hamzah saksi mata dari Surabaya menuturkan bahwa ada seorang sukarelawati namanya Herlina Kasim yang betul-beul diterjunkan di Irian. Herlina Kasim yang juga punya nama Siti Rachmah Kasim arek Malang (Arema) ini lahir tahun 1941 sering ikut demo menentang Belanda selepas pidato presiden Sukarno itu. Dia sebenarnya adalah pendiri Mingguan Karya di Ternate Maluku. Darahnya mendidih setelah mendengar pidato Bung Karno di Yogyakarta itu, lalu dia minta ijin pada Panglima Kodam XVI Pattimura agar segera diterjunkan di hutan belantara Irian untuk ikut berperang melawan Belanda. Kodam lalu menerjunkan 20 sukarelawan termasuk dirinya. Hal ini membuat dia masuk dalam sejarah Indonesia, menjadi satu-satunya wanita yang diterjunkan di Irian.
Nama dia tentu melegenda di tanah air karena keberanian dan semangat nasionalisme nya yang tinggi. " Saya sendiri tidak bisa membayangkan seorang perempuan diterjunkan dari pesawat militer Angkatan Udara dikegelapan malam di hutan yang sangat tidak bersahabat. Saya waktu itu sering mendengar cerita para prajurit TNI kita yang gugur ketika diterjunkan dari langit, karena ditembak Belanda sesampainya di daratan, atau mati karena terluka parah tersangkut di pohon Irian yang tinggi-tinggi, atau mati terkena penyakit malaria di hutan Irian. Tapi Bu Herlina ini kok berani ya." (good news from Indonesia.id, 28 Juni 2020).
Biografi Herlina Kasim
Herlina adalah satu-satunya sukarelawati yang ikut mendarat di Irian Barat dalam Operasi Trikora (1962/1963). Untuk itu ia mendapat pending emas dari Presiden Sukarno.
Herlina lahir di Malang 24 Februari 1941. Setelah menamatkan SMA, Herlina memperoleh pendidikan militer. Setelah itu ia menjadi pegawai Departemen Luar Negeri. Untuk bidang ini ia mendapat pendidikan atase pers.
Sebagai sukarelawati ia tidak hanya aktif pada masa Trikora, tetapi juga Dwikora, masa konfrontasi dengan Malaysia.
Sewaktu terjadi Gestok, Herlina ikut aktif dalam penumpasan PKI dan mendukung adanya perubahan dalam tata politik Indonesia masa itu (Soebagijo I N., 2004 : 400).
Karena kesehatannya mulai terganggu, Herlina mengundurkan diri dari semua kegiatan politik dan hidup berwiraswasta. Perhatiannya kemudian tercurah ke bidang sosial. Ia mengasuh anak yatim piatu dan penderita mental, di samping menggiatkan olahraga sepak bola. Selain itu ia juga duduk sebagai pengurus Organisasi Veteran (1980-1983).
Pending Emas yang dihadiahkan kepadanya oleh kepala negara , dikembalikan dengan harapan agar dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
Pada tahun 1989 ia berhasil mengembalikan sejumlah pelaut yang ditahan selama lebih dari dua tahun di Fiji. Mereka terbawa arus laut ke wilayah Fiji tetapi dianggap melanggar batas negara dan ditahan. (ENI Jilid 6, 2004 : 401).
Komentar
Posting Komentar