Sukarelawan/Sukarelawati Pembebasan Irian Barat
Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 19 December 1961 di Yogyakarta untuk memobilisasi rakyat. Jutaan rakyat, pemuda, dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia mendaftar menjadi barisan sukarelawan. (Sedjarah Perdjuangan Pemuda Indonesia).
Langkah militer pertama yang dilakukan adalah membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat pada tanggal 2 Januari 1962. Jumlah personal yang dipersiapkan sekitar 300.000 personal, di antaranya ada 23.000 sukarelawan/sukarelawati.
Bung Karno Meminta Sukarelawan Berenang hingga Irian Barat
Martin Sitompul dalam sebuah artikelnya di Historia.id, 30 Mei 2921 menulis bahwa desakan kalangan sipil untuk melancarkan ofensif rupanya makin kuat. Suasana itu sepertinya ikut memantik Presiden Sukarno untuk segera menghajar Belanda. Hingga sekali waktu, Bung Karno mengumpulkan sejumlah jenderal senior dan para menteri.
Bung Karno langsung memberondong Soeharto dengan serangkaian pertanyaan.
“Mulai kapan inflitrasi besar-besaran itu bisa dilanjutkan? Kita penuhi Irian dengan dengan gerilyawan kita!” seru Bung Karno. Soeharto mengatakan secepatnya misi itu akan dilakukan. Sambil menujuk ke peta, Soeharto menjelaskan agar pasukan harus dikonsentrasikan terlebih dahulu di pulau-pulau kecil di sekitar kepala burung.
“Kalau begitu angkut segera sebanyak-banyaknya,” kata Sukarno.
“Angkutannya, Pak,” jawab Soeharto sambil melirik ke arah Nasution.
“Kita akan gunakan juga kapal-kapal pengangkut umum. Tidak usah tunggu yang masih didatangkan dari Rusia,” Djuanda memberi masukan.
“Betul, Pak Djuanda, tapi pengorganisasian armada ini masih sedang berjalan,” Nasution menyanggah.
Bung Karno menyetujui gagasan Djuanda agar selekas mungkin pasukan didaratkan ke Irian. “Kalau perlu, semua ramai-ramai akan aku perintahkan untuk berenang saja ke Irian,” ujar Bung Karno dengan penuh semangat.
Nasution dalam memoarnya mengonfirmasi perkataan Sukarno, “Kalau perlu suruh sukarelawan ramai-ramai berenang ke Irian Barat.” Instruksi lisan itu menggambarkan betapa luasnya desakan pihak sipil untuk segera membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Nasution juga mencatat desakan Soebandrio agar paling lambat April 1962, Angkatan Perang Indonesia sudah menyerbu kedudukan Belanda di Papua.
“Saya dan teman-teman, termasuk Panglima Soeharto tempo-tempo dikiritik sebagai terlalu berhati-hati berhadapan dengan kehendak sipil yang mendesak,” tutur Nasution.
Penyusupan
TNI Angkatan Darat dibantu TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara menyusupkan para sukarelawan dan pasukan ke daratan serta pantai Irian Barat. (marxists.org)
Penerjunan pasukan dan sukarelawan dilakukan secara diam-diam pada malam hari menggunakan pesawat angkut AURI atau kapal laut untuk mengelabui militer Belanda. (id.wikipedia.org)
Selain militer dan penyusupan taktis, elemen masyarakat seperti lembaga keagamaan juga mengirimkan tenaga sukarelawan untuk misi pembinaan dan kemanusiaan di pedalaman Irian Barat. (nu.or.id).
Sukarelawati
Ahmad Cholis Hamzah, saksi mata dari Surabaya, menuturkan ada seorang sukarelawati namanya Herlina Kasim yang betul-beul diterjunkan di Irian. Herlina Kasim yang juga punya nama Siti Rachmah Kasim arek Malang (Arema) ini lahir tahun 1941 sering ikut demo menentang Belanda selepas pidato presiden Sukarno itu. Dia sebenarnya adalah pendiri Mingguan Karya di Ternate Maluku. Darahnya mendidih setelah mendengar pidato Bung Karno di Yogyakarta itu, lalu dia minta ijin pada Panglima Kodam XVI Pattimura agar segera diterjunkan di hutan belantara Irian untuk ikut berperang melawan Belanda. Kodam lalu menerjunkan 20 sukarelawan termasuk dirinya. Hal ini membuat dia masuk dalam sejarah Indonesia, menjadi satu-satunya wanita yang diterjunkan di Irian.
Nama dia tentu melegenda di tanah air karena keberanian dan semangat nasionalisme nya yang tinggi. " Saya sendiri tidak bisa membayangkan seorang perempuan diterjunkan dari pesawat militer Angkatan Udara dikegelapan malam di hutan yang sangat tidak bersahabat. Saya waktu itu sering mendengar cerita para prajurit TNI kita yang gugur ketika diterjunkan dari langit, karena ditembak Belanda sesampainya di daratan, atau mati karena terluka parah tersangkut di pohon Irian yang tinggi-tinggi, atau mati terkena penyakit malaria di hutan Irian. Tapi Bu Herlina ini kok berani ya." (goodnewsfromindonesia.id, 28 Juni 2020).
Komentar
Posting Komentar