Postingan

John F. Kennedy dan Robert Kennedy Dibuat Pusing oleh Subandrio

Pada tanggal 12 Juli 1962 pembicaraan Middleburg tentang Irian Barat kembali digelar, dengan Ellsworth Bunker sebagai penengahnya. New York Times melaporkan bahwa Menlu Indonesia tersebut menuntut bahwa selama periode pemerintahan peralihannya yang singkat, PBB hanya akan memainkan peran simbolis.  Subandrio juga mengusulkan supaya personal militer Indonesia yang saat itu sudah berada di wilayah Irian Barat diperbolehkan tetap tinggal dan menjalankan tugas militer mereka selama periode pemerintahan PBB.  Ketika Belanda menolak tuntutan tersebut, Subandrio mengancam akan menarik diri dan kembali ke Indonesia.  Robert Kennedy dan John F. Kennedy mendesak Subandrio untuk tidak memutuskan keluar dari pembicaraan. Dalam sebuah pembicaraan dengan Menlu RI tersebut pada tanggal 20 Juli 1962, Robert Kennedy mengingatkan bahwa Perundingan Middleburg hampir mencapai kata akhir yang baik. Dia berharap bahwa tidak ada tindakan yang diambil yang akan menghalangi tercapainya penyelesa...

Perundingan Middleburg Dilanjutkan Kembali

Indonesia terus memperkuat kehadiran militernya di Irian Barat. Dalam sebuah operasi militer untuk membebaskan Irian Barat yang dinamakan Operasi Mandala, satuan-satuan militer Indonesia mempersiapkan diri untuk merebut wilayah tersebut dengan kekuatan bersenjata. Washington melipatkan tekanannya baik atas Den Haag maupun Jakarta untuk membuka kembali perundingan. Kedua belah pihak yang bertikai menanggapi dengan positif. Pada tanggal 12 Juli 1962 pembicaraan Middleburg kembali digelar, dengan Ellsworth Bunker sebagai penengahnya. Menunjuk pada ketetapan Formula Bunker yang  mengatur bahwa pemerintahan PBB akan berlangsung untuk kurun waktu satu atau dua tahun, Menteri Luar Negeri Subandrio meminta bahwa pemerintah itu akan berakhir pada tanggal 1 Juni 1963.  New York Times melaporkan bahwa Menlu Indonesia tersebut menuntut bahwa selama periode pemerintahan peralihannya yang singkat, PBB hanya akan memainkan peran simbolis.  Subandrio juga mengusulkan supaya personal mili...

Serangan Terhadap Mentalitas Borjuis

Pada bulan Maret 1962, Presiden mengangkat Aidit dan Nyoto sebagai menteri-menteri penasihat tanpa portfolio. Itu berarti bahwa PKI berada di luar kabinet inti dan berpotensi memberi kesulitan bagi mereka, karena dengan kedudukan itu mereka bertanggungjawab untuk kegiatan pemerintah namun tidak mempunyai kekuasaan. Partai ini hanya semakin kelihatan dan dibenci oleh musuh-musuhnya.  Menurut Ricklefs, PKI memanfaatkan kampanye Irian Barat untuk meningkatkan pengaruh dan memperbanyak jumlah anggota. (2095 : 534). Pada bulan Juli 1962, jumlah anggota front kaum Tani PKI (BTI) mencari 5,7 juta orang (seperempat dari keseluruhan jumlah petani).  Pada akhir tahun 1962, jumlah anggota SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) mencapai 3,3 juta orang.  Pada awal tahun 1963, jumlah anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia, didirikan tahun 1954), masing-masing mencapai 1,5 juta orang.  Pada akhir tahun 1962 jumlah PKI mencapai 2 juta orang, sehingga...

Nasution Menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB)

Presiden Sukarno menginginkan supaya kampanye untuk merebut Irian Barat menjadi alat untuk menggembleng Indonesia ke dalam momentum massa yang ia pandang sangat penting artinya bagi revolusi yang berkesinambungan dan sangat cocok dengan bakat-bakat kepemimpinannya.  Pada bulan Desember 1961 dibentuk Komando Operasi Tertinggi (KOTI) bagi pembebasan Irian Barat. Presiden Sukarno menjadi panglimanya. Nasution mewakilinya dan Mayor Jenderal Achmad Yani menjadi kepala stafnya. Sedangkan Komando Mandala diketuai oleh Mayor Jenderal Soeharto. Pada bulan Januari 1962, suatu pasukan Indonesia menderita kekalahan besar di laut Arafuru, di mana Komodor Yos Soedarso dan prajurit lainnya gugur. Angkatan Darat menuntut agar Suryadarma digantikan sebagai pimpinan Angkatan Udara karena tidak berhasil memberikan bantuan kekuatan udara yang cukup memadai. Presiden menggantinya dengan Marsekal Madya Omar Dhani. Pada bulan Juni 1962, Nasution diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB) yan...

Formula Bunker

Tak lama setelah  dibuka , perundingan Middleburg mengalami jalan buntu. Indonesia menuntut pengalihan wilayah Irian Barat kepada Indonesia menjadi syarat mendasar untuk pembicaraan lebih jauh. Belanda menuntut kesepakatan yang memuaskan dalam penentuan nasib sendiri rakyat Papua. Akhirnya kedua belah pihak meninggalkan Middleburg. Pembicaraan kemudian ditangguhkan.  (FRUS, 1861-1963, Vol. XXIII, 549-555). Menanggapi penangguhan tersebut, para pejabat di Washington merumuskan sebuah usulan dan berharap Belanda dan Indonesia dapat menerimanya sebagai landasan bagi dimulainya kembali pembicaraan di antara keduanya. Setelah serangkaian diskusi di Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih, pada 29 Maret 1962 Kementrian Luar Negeri AS mengajukan sebuah usulan kompromis kepada Den Haag dan Jakarta. Rumusan Usulan yang dikenal sebagai Formula Bunker itu mengharapkan : (1) Suatu transfer Irian Barat kepada Dewan Keamanan PBB, yang setahun kemudian akan diikuti oleh ; (2) Transfer wil...

Kartosuwirjo Ditangkap dalam Operasi Pagar Betis

Berakhirnya PRRI/Permesta telah memberi peluang kepada pihak tentara untuk memusatkan perhatian pada tujuan barunya di Papua dan musuh lamanya di Jawa Barat. Pada akhir tahun 1961 dilancarkanlah suatu serangan baru terhadap Darul Islam.Kartosuwirjo terluka pada bulan April 1962, yang menggoyahkan keyakinan para pengikutnya bahwa dirinya kenal. Pada bulan Juni 1962, dia ditangkap dan diadili dengan tuduhan telah melakukan pemberontakan dan berusaha melakukan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Kartosuwirjo dihukum mati pada bulan September 1962. (Ricklefs, 2005:533). Untuk pertama kalinya sejak Revolusi, keamanan di wilayah pedalaman Jawa Barat berhasil dipulihkan kembali. Pihak militer dan Nasution semakin menguasai keadaan. Awal Mula Pemberontakan  Terjadinya pemberontakan DI/TII didorong oleh rasa tidak puas Kartosuwirjo terhadap situasi setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Pasalnya, kemerdekaan RI diselimuti oleh bayang-bayang Belanda yang masih ingin berkuasa di Indonesia....

Sjahrir Wafat di Swiss

Pada bulan Januari 1962 terjadi usaha pembunuhan lagi kepada Presiden Sukarno ketika beliau berkunjung ke Sulawesi Selatan. Sukarno lalu mendesak supaya musuh-musuhnya dihukum.  Syafruddin, Natsir, Simbolon, Burhaduddin, serta banyak pemimpin senior lainnya dari Masyumi dan PSI dijebloskan ke dalam penjara.  Sjahrir juga ditahan. Pada tahun 1965, dia diizinkan pergi ke Swiss untuk mendapatkan perawatan medis (Ricklefs, 2005:532). Sjahrir ditangkap karena dianggap bergabung ke dalam gerakan subversif yang hendak menjatuhkan pemerintahan. Sjahrir bersama sejumlah tokoh lainnya ditangkap dan ditahan di mess Corps Polisi Militer (CPM) di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta.  Tak berselang lama, Sjahrir kemudian dipindah ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo. Di sana lah Sjahrir sakit. Sejumlah tokoh termasuk Bung Hatta sudah mendesak agar pemerintah membebaskan Sjahrir. Namun desakan Bung Hatta dan tokoh lainnya tak digubris.  Sjahrir kemudian diizinkan menjalani perawatan di...