Trisnojuwono
Majalah Tempo edisi 28/11 tanggal 11 September 1971 menulis rubrik berjudul Trisnojuwono yang terasa lucu jika dibaca sekarang :
"CSD bukan sedjenis LSD. Kepandjangannja ialah: Club Sky Diving, jaitu perkumpulan penggemar-penggemar terdjun -- bukan di air atau dikasur - tetapi diudara, dengan parasut. Adanja di Bandung dan jang mendirikan adalah: Trisnojuwono. Madjukah perkumpulan ini? Peminatnja banjak tetapi klub jang harus bermodalkan pesawat terbang ini, kekurangan fasilitas..." (data.tempo.co).
Trisnojuwono adalah sastrawan kelahiran Yogyakarta, 12 November 1925, yang kemudian menjadi wartawan Pikiran Rakyat dan meninggal di Bandung 29 Oktober 1996 dalam usia 70 tahun. Terakhir beliau tinggal di Komplek Wartawan Baleendah.
Biografi
Trisnojuwono pengarang novel dan cerita pendek yang banyak dikenal pada tahun 1950 dan 1960-an. Sejak muda ia terlibat dalam revolusi kemerdekaan dan selanjutnya memasuki dinas tentara sampai tahun 1950-an. Pengalaman selama revolusi banyak memberikan sumbangan terhadap karya-karya fiksinya.
Menurut Jakob Sumardjo, mula-mula ia menulis sejumlah cerita pendek di majalah Kisah (1953-1956). Cerita pendeknya yang tersebar dalam sejumlah Penerbitan kemudian dikumpulkan dalam beberapa buku, meliputi Laki-laki dan Mesiu (1957), Angin Laut (1958), Di Medan Perang (1962) dan Kisah-kisah Revolusi (1965). Cerpen-cerpennya yang berkisah tentang masa revolusi juga dirangkaikan dalam sebuah novel dengan beberapa perubahan dengan judul Si Anak Hilang dan kemudian Petualang. Noveletnya yang terkenal adalah Pagar Kawat Berduri (1961), Bulan Madu (1962), dan Surat-surat Cinta (1968).
Meskipun ia banyak bercerita tentang kekejaman perang dan kekerasan hidup di lingkungan militer, ia dapat menyajikan cerita-ceritanya dengan gaya humor secara halus. Selanjutnya, ia bekerja sebagai wartawan Pikiran Rakyat, Bandung, dan terkenal pula sebagai penerjun payung Senior dan tertua di Indonesia (2004 : 452).
Trisnojuwono dan Karya-karya Revolusionernya
Perkenalan pertamanya dengan dunia sastra terjadi dalam situasi yang tidak biasa, yaitu ketika ia berada di penjara Benteng Ambarawa. Di tempat itu, ia bertemu dengan Kapten Nusyirwan Adil Hamzah yang memperkenalkannya pada beberapa karya puisi, membangkitkan minatnya terhadap sastra. Pengalaman ini menjadi titik balik bagi Trisnojuwono. Ia mulai mempelajari sastra secara lebih mendalam dan mencoba menulis karyanya sendiri. Karya-karya yang dihasilkannya sering kali menggambarkan suasana tegang dengan latar belakang masa revolusi dan kehidupan militer. Ciri khas tulisan Trisnojuwono adalah penekanannya pada aspek kemanusiaan. Ia sering mengangkat tema tentang nasib korban perang dan dampak konflik terhadap masyarakat. Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah novel "Pagar Kawat Berduri" yang terbit pada tahun 1961. Novel ini mendapatkan pengakuan berupa Hadiah Sastra Yayasan Yamin pada tahun 1964, menunjukkan kualitas dan dampak karyanya dalam dunia sastra Indonesia (Siti Nurannisa, kumparan.com, 18 Juli 2024).
Komentar
Posting Komentar