Setia Kepada Marhaenisme Sejati


Padahal, pada kongres Partindo di Jakarta, 26 Desember 1961, Bung Karno sudah menegaskan bahwa marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia (Berdikari Online).

Pidato Presiden Sukarno pada Kongres Partindo (Partai Indonesia) di Gedung Olah Raga, Jakarta tanggal 26 Desember 1961 itu secara resmi diberi judul "Setia kepada Marhaenisme Sedjati".

Poin-poin historis dan substansi penting dari pidato tersebut meliputi:

Penegasan Hakikat Marhaenisme: 

Dalam kongres ini, Bung Karno menegaskan secara eksplisit definisi ideologi yang dirumuskannya dengan menyatakan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dan dilaksanakan di Indonesia.


Melawan Desukarnoisasi / Pemurnian Ideologi: 

Pidato ini sering dirujuk oleh para sejarawan dan loyalis Sukarno untuk membantah upaya-upaya politik di masa setelahnya (seperti era Orde Baru) yang mencoba "membersihkan" atau memisahkan Marhaenisme dari akar pemikiran Marxisme-nya. Bung Karno menegaskan bahwa membuang unsur tersebut sama saja dengan menghilangkan pijakan berpikir dari Marhaenisme itu sendiri.


Konteks Politik Pembebasan Irian Barat: 

Kongres ini berlangsung tepat seminggu setelah Bung Karno mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 19 Desember 1961 di Yogyakarta. Oleh karena itu, pidato di depan kader Partindo ini juga bermuatan konsolidasi politik nasional untuk menggalang kekuatan rakyat dan partai-partai progresif guna mendukung mobilisasi umum membebaskan Irian Barat dari kolonialisme Belanda.

Naskah dokumen dan rekaman amanat ini tersimpan secara resmi dalam katalog Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) serta Katalog Opac Perpustakaan Nasional RI sebagai bagian dari dokumen penting sejarah revolusi Indonesia.

Saya belum berhasil mengunggah pidato tersebut. Padahal ini adalah pidato Bung Karno yang paling banyak mendapat reaksi publik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Ibukota Pindah ke Yogyakarta

Pidato Soepomo