Indonesia dan Filipina Menentang Pembentukan Federasi Malaysia


Bunyi salah satu artikel pada pernjanjian pembentukan federasi Malaysia menetapkan bahwa Malaysia akan "memberi hak kepada Kerajaan Inggris Raya untuk tetap mempertahankan basis militer mereka dan memberi izin pada pemerintah Inggris untuk memanfaatkan basis-basis tersebut sekiranya hal itu dipandang perlu...untuk memelihara perdamaian di Asia Tenggara." (FRUS, 1961&1963, Vol. XXIII, 715).

Kekuatan-kekuatan Barat terutama Inggris dan AS telah menggunakan Malaka, Singapura dan koloni-koloni Inggris di Kalimantan Utara sebagai basis untuk operasi pengeboman mereka selama berkobarnya pemberontakan PRRI/Permesta pada tahun 1957-1958. Kaum pemberontak telah memanfaatkan wilayah-wilayah tersebut untuk menyelundupkan dana bagi pemberontakan mereka. 


Laporan Intelijen

Sebuah laporan intelijen AS menyatakan bahwa"Federasi Malaysia yang diusulkan itu diajukan oleh Inggris dan pemerintah Malaka terutama sebagai cara untuk (a) mencegah ancaman komunis di Singapura, yang penduduknya mayoritas adalah keturunan Cina; dan (b) memberi Inggris alternatif yang bisa diterima bagi posisi kolonialnya saat itu di bagian utara Kalimantan. (FRUS, 1961-1963, Vol. XXIII, 712). 

Direktur Biro Intelejen dan Penelitian Departemen Luar Negeri AS Roger Hilsman menyatakan:

"Di Indonesia ada ketakutan yang sangat kuat bahwa Malaysia yang akan dibentuk itu sesungguhnja hanyalah kedok bagi Inggris dan Barat untuk melanjutkan keberadaan mereka dan alat kekuasaan Barat di wilayah itu. Perlu diingat, Sukarno dan rakyat Indonesia punya bukti yang tak terbantahkan bahwa pada tahun 1958 para pemberontak menerima drop-dropan perlengkapan perang mereka dari pesawat-pesawat yang berbasis di Malaysia dan Filipina, dan bahwa CIA berada di balik pemerintahan dukungan itu." (Quadripartite Talks on Malaysia and Indonesia, 16 October 1963 : 2-8 dalam Roger Hilsman Papers, Countries: India, Harriman Missions, 11/62 Malaysia-Indonesia , Folder Malaysia-Indonesia,  Quadripartite Talks, 10/10/63-10/17/63, Kennedy Library).

Dalam bukunya, To Move a Nation, Hilsman menyatakan bahwa sikap Indonesia menentang Malaysia tersebut adalah bagian dari ungkapan "nasionalisme baru" Indonesia, di mana Jakarta ingin kelihatan dalam  masalah-masalah internasional, terutama yang terkait dengan bekas negara-negara kolonial. (Hilsman, 382)

Itulah sebabnya Bung Karno melihat pembentukan Malaysia bukan sebagai upaya Inggris untuk melakukan dekolonisasi, tetapi justru untuk rekolonisasi wilayah-wilayahnya. Federasi Malaysia adalah suatu bentuk neo-kolonialisme (Wardaya, 2008 : 299).


Dukungan Rakyat Terhadap Bung Karno 

Sikap Bung Karno untuk menentang pembentukan Federasi Malaysia mendapat dukungan yang besar dari rakyat Indonesia dengan sangat antusias. 

Salah satu dukungan yang paling kuat datang dari PKI. Sejak Desember 1961 PKI telah mengecam rencana tersebut sebagai sebuah usaha kaum neo-koloniali untuk menghalangi rakyat bekas koloni Inggris memperoleh kemerdekaan nasional dan kebebasan sejati dari imperialisme.  

Angkatan Darat pun mendukung sikap Bung Karno dalam pembentukan Malaysia. AD takut bahwa adanya dengan banyak keturunan Cina di dalam federasi itu, Malaysia akan dapat menjadi batu loncatan bagi penetrasi Cina Komunis ke Indonesia melalui perbatasan Indonesia-Malaysia. ( Howard Palfrey Jones, Indonesia: The Possible Dream, New York: Harcourt Brace Javanovich , 1971: 266-267, 269-270).


Dukungan Filipina Terhadap Bung Karno 

Bung Karno juga mendapat dukungan dari Filipina. Presiden Filipina Diosdado Macapagal tidak setuju dengan pembentukan Federasi Malaysia. Dia mengklaim Sabah sebagai bagian dari wilayah negaranya atas dasar hubungan Filipina dengan Sultan Sabah pada masa pra-kolonial. 

Filipina juga takut bahwa federasi baru itu akan menjadi basis bagi penetrasi komunis warga Cina Malaysia dan unsur-unsur komunis Indonesia. 

Filipina juga menjalin hubungan erat dengan pemimpin pemberontak Kalimantan Utara, Azahari, dan membantunya selama pemberontakan melawan Inggris pada tahun 1962. (Notes on Malaysia for Use by Mr. Hilsman in Appearance Before House of Representatives Subcommittee on Foreign Affairs for the Far East, Honorable Clement J. Zablocki, Chairman). 

Banyak warga Singapura, khususnya anggota Partai Barisan Sosialis yang pro-komunis juga menentang Federasi Malaysia. Menurut sebuah laporan intelijen AS, partai itu menentang rencana federasi dan bermaksud menggagalkannya dengan memanfaatkan situasi genting dalam pemerintahan Singapura (FRUS, 1961-1963, Vol. XXIII, 707).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Mahabharata

Ibukota Pindah ke Yogyakarta