Postingan

Museum Sebagai Jendela Kebudayaan

Museum diperlukan untuk mengumpulkan, ,menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan benda-benda bukti material hasil budaya manusia,alam dan lingkungannya. Hal itu berlaku juga untuk komik Indonesia tentunya. Artikel ini menggambarkan fungsi museum dalam mengamankan komik Indonesia sebagai benda hasil budaya. Setiap benda yang menjadi koleksi museum harus memperhatikan criteria sebagai berikut: pertama, memiliki nilai sejarah dan ilmiah; kedua, memiliki identitas menurut bentuk dan wujudnya, tipe dan gayanya, fungsi dan asalnya secara historis, geografis, serta periodesasi; ketiga, dapat menjadin monument sejarah dan budaya (Perda Propinsi Jawa Barat No. 7 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Kepurbakalaan, Kesejarahan, Nilai Tradisional danMuseum). Koleksi Koleksi museum tentunya harus didokumentasikan secara verbal dan visual dengan ketentuan teknis permuseuman. Koleksi tidak boleh diperjualbelikan atau dipindahtangankan, tetapi boleh dipinjamkan untuk kepentingan pelayanan masyaraka...

merayakan datangnya agustus

Gambar

Rampokan Jawa

Saat berjalan-jalan di antara stand pameran kriya dari Dekranasda Kota Bandung, mata tertarik pada sebuah kaos oblong buatan Mahanagari yang dihiasi drawing Savoy Homann Bandoeng Java. Uniknya kaos itu dihiasi latar belakang gambar komik. Gambar diambil dari "Rampokan Jawa" karya Peter van Dongen terbitan Amsterdam, 1966. Rampokan menurut tradisi Jawa merujuk pada macan atau harimau--simbol kemarahan pada penguasa kolonial-- yang tertangkap dan akan dibunuh pada upacara akhir Ramadhan. "Rampokan" dibuat melalui penelitian sumber-sumber sejarah dan studi gambar yang memakan waktu tiga tahun. Inilah yang menjadi dasar bagi Peter untuk membangun kembali dunia yang masih dihuni oleh nenek moyangnya. Termasuk sudut-sudut kota Bandung pada tahun 1946. Di antaranya Hotel Savoy Homann, sebuah hotel yang dirancang ulang oleh seorang arsitek terkenal, Aalbers, pada tahun 1936. Arsitektur Savoy sendiri sebenarnya didesain mirip dengan karya Aalbers sebelumnya yaitu D...

Pendidikan dan Kualitas Manusia

• Kualitas manusia berasal dari dua sumber , bawaan genetic dan kemampuan yang diperoleh . Pendidikan adalah sumber utama dari kemampuan yang diperoleh . Perbedaan antara suatu Negara dengan Negara lain dalam kemampuan yang diperoleh ( acquired abilities ) itulah yang merupakan modal manusia (human capital). Sejak tahun 1980-an konsep human capital menjadi substansi analisis ekonomi . • Idealnya seseorang dapat berpikir seperti Soedjatmoko , mampu mengekspresikan harapan dan keindahan seperti Rendra, berbicara sederhana namun berbobot seperti Hatta , dan menjadi pribadi public yang kuat dan bertanggungjawab seperti Bung Karno . • Pembentukan human capital oleh pendidikan menjadi agenda penelitian sejumlah ekonom . Dampak pendidikan terhadap aktivitas ekonomi adalah nyata . Sudah diketahui pula bahwa Investasi di bidang human capital telah meningkatkan pendapatan nasional .

Kerajaan Makna versi Phenix

Phenix ( Realms of Meaning ) mengatakan pada kerajaan makna ada enam rumpun makna. Rumpun pertama dinamakan simbolik yang terdiri dari bahasa sehari-hari, matematika dan bentuk-bentuk simbol non diskursif. Rumpun kedua dinamakan empirik yang terdiri dari ilmu fisika, biologi, psikologi dan sosial. Rumpun ketiga dinamakan estetik yang terdiri dari musik, seni visual, seni gerak dan sastra. Rumpun keempat disebut sinoetik yang terdiri dari pengetahuan personal. Rumpun kelima adalah etika yaitu pengetahuan moral. Rumpun keenam dinamakan sinoptik terdiri dari sejarah, agama dan filsafat. Tadinya saya pikir kalau komik itu masuk pada rumpun ketiga (estetika) karena merupakan seni visual, tapi komik itu bisa simbolik, empirik, esetetik, sinoetik, etik, dan sinoptik sekaligus. Tidak heran kalau ada komik tentang Das Kapital, Teori Newton dan ajaran Machiaveli. Nah kapan para komikus INDONESIA membuat komik tentang Pancasila ? Kutunggu.

Catatan Dari Seorang Teman

Catatan Dadang Kusnandar Minggu` 28 Juni 2009 sesaat menunggu istri dan anak pulang dari pasar tradisional, saya mengirimkan pesan pendek (tapi cukup panjang) kepada Tomi Johan Agusta di Denpasar, Mas Adji Klewang di Malang, dr Ribka Tjiptaning di Jakarta, Mas Cahyo Suryanto di Surabaya, Mas Harjoko di Bandung, Mas Dahono di Jakarta. Saya mentransfer kegelisahan sekaligus impian yang cukup lama terpendam: Museum Komik. Jika setiap selesai shalat Shubuh dan menyiapkan diri ke sekolah, anak saya menyalakan televisi 14 inchi terus memeloti film kartun luar, seketika terpikir betapa minimnya pengetahuan anak saya menyoal tokoh lokal. Meski anak saya yang baru saja naik kelas 8 di Cirebon itu tergolong rajin baca dan mengoleksi buku; tetap saja Naruto, dan sebagainya yang dikenal-- mungkin jadi idola. Saya agak yakin anak-anak lain pun melakukan hal yang sama, mungkin di seluruh Indonesia. Isi sms saya : Yang terpikir sekarang adalah, ingin ada yang mau bareng-bareng wujudkan mimpiku mendir...