Korps Komando/ KKo AL


Marinir AL yang pada awal pembentukannya bernama Corps Marinier (CM), terbentuk pada tanggal 15 November 1945, beberapa bulan setelah terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut pada tanggal 10 September 1945.

Setelah pelaksanaan KMB dan pemulihan kedaulatan RI, unsur-unsur ALRI, terutama yang berada di Jawa dan Sumatra, khususnya Tegal, Pekalongan, Jakarta, Sibolga, dan Sabang, diperintahkan untuk mengikuti seleksi di pangkalan utama Surabaya. 

Hasilnya sebanyak kurang-lebih 1.200 orang dipilih dan dipersiapkan untuk menjadi cikal-bakal pasukan amfibi ALRI. Sekitar 95% dari mereka yang terpilih berasal dari Corps Marinier Corps Armada IV Tegal di bawah kepemimpinan Mayor Suhadi, yang kemudian hari menjadi Komandan pertama KKo ALRI.

Setelah beberapa kali konsolidasi Marinir kemudian ditetapkan menjadi Korps Komando Angkatan Laut RI dengan singkatan KKo AL. 

Pada bulan November 1951, diadakanlah pertemuan perwira-perwira KKo AL di Ksatrian ALRI Wonokitri, Surabaya, untuk membahas dan merancang pembinaan dan hari depan korps ini. 

Keputusan pertemuan menetapkan bahwa KKo harus ditingkatkan menjadi pasukan pendarat amfibi yang tangguh dan profesional, yang mahir dalam pengetahuan, kecakapan, dan ketrampilan sebagai pasukan tempur darat amfibi.

Melalui pendidikan dan latihan dengan bantuan misi militer berintikan Mariniers Corps Angkatan Belanda, KKo dilatih menguasai peralatan dan teknik gelar operasi amfibi mutakhir.

Sejumlah personal KKo, terutama perwira, dikirim untuk mengikuti pendidikan-latihan di Mariniers Corps Belanda dan Marine Corps AS. 

Operasi Indra 

Salah seorang perwira pertama muda usia Mariniers Corps Belanda, Letnan HMW Hunholz, bergabung ke dalam ALRI. Ia pulalah yang memimpin Operasi Indra di pantai Indramayu dalam rangka penumpasan DI/TII di Jawa Barat. Ia juga, dalam pangkat Kolonel KKo AL, yang memimpin unit-unit KKo dalam sejumlah operasi militer menindak PRRI/ Permesta, terutama dalam Operasi Tegas, 17 Agustus, dan Merdeka pada tahun 1958.

Operasi Dwikora 

Gelar tempur Marinir yang terbesar dilakukan dalam Operasi Dwikora tahun 1964-1965, yang menggerakkan dua brigade KKo.

Dalam Operasi Djajawijaya tahun 1961, satu brigade KKo telah disiapkan untuk melakukan tahapan akhir Operasi Pembebasan Irian Barat itu. Tetapi Operasi itu tidak jadi digelar karena penyelesaian sengketa telah tercapai dengan Perundingan New York. (Subagyo Sayogya, 2004 : 146-147).

KIPAM KKo AL 

Dalam Korps ini terdapat sebuah kesatuan bertugas khusus bernama Intai Amfibi Marinir/ Taifibmar, yang pada saat berdirinya bernama Kompi Intai Para Amfibi /KIPAM KKo AL. Para personalnya memiliki kualifikasi komando khas Marinir. Unit-unit kecil Taifibmar terlatih untuk melakukan penyusupan dan pengintaian langsung ke dan di pantai yang masih dikuasai lawan, sebagai persiapan pendaratan amfibi. Personal Taifibmar diseleksi dari unit-unit Marinir, dan para calon harus sudah memiliki pengalaman operasi tempur.

Usman dan Harun

Di antara personal Taifibmar ini adalah Usman Janatim dan Harun Tohir, yang setelah gugur menjadi pahlawan nasional. 

Pada tanggal 15 November 1975, nama KKo berubah lagi menjadi Korps Marinir TNI-AL.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Partindo Di Bawah Sukarno

Ibukota Pindah ke Yogyakarta