Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra
Pada tahun 1958, TMP Cikutra mulai dibangun karena adanya kebutuhan mendesak akan ruang pemakaman yang layak bagi para pejuang bangsa, khususnya dari kalangan militer.
Bukan hanya sebagai tempat peristirahatan terakhir, pendirian TMP Cikutra menjadi simbol penghormatan negara atas jasa para pejuang yang gugur demi kemerdekaan Indonesia.
TMP Cikutra dibangun dengan dua tugu yang menjulang tinggi di bagian depan area makam sebagai penanda dan ciri khas utama kawasan ini.
Di dalam kompleks pemakaman terdapat tugu yang memuat daftar nama pahlawan yang dimakamkan. Selain itu, berdiri pula monumen bertuliskan "Esa Hilang Dua Terbilang" yang merupakan simbol filosofis yang merepresentasikan perjuangan atau kegigihan untuk sampai ke tujuan.
Hasil Tukar Tanah
TMP Cikutra ternyata memiliki sejarah administratif yang panjang. Mulanya, lahan seluas 13.670 meter persegi yang digunakan sebagai TMP itu merupakan tanah milik perorangan atas nama Odje.
Karena adanya kebutuhan yang mendesak akan fasilitas pemakaman kehormatan bagi para pejuang, Pemerintah Kota Bandung akhirnya menggunakan tanah tersebut untuk membangun Taman Makam Pahlawan (Gheyna Sabila Z - detikJabar, Sabtu, 03 Jan 2026).
Para Tokoh
Di balik sesaknya arus di Jalan Cikutra, Bandung, terbentang sebuah ruang yang menyimpan kisah pengorbanan bangsa.
Dibangun sebagai tempat peristirahatan terakhir para pahlawan Indonesia, Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra menjadi salah satu saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Bukan hanya sebagai area pemakaman, TMP Cikutra menjadi salah satu tempat wisata religi dan arsip terbuka tentang sejarah perjuangan Indonesia. Banyak tokoh tersohor yang dimakamkan di sana.
Tak sedikit tokoh pahlawan tersohor yang dimakamkan di Cikutra, seperti Douwes Dekker atau Setiabudi Danudirdja. Kemudian, Moestopo yang dikenal sebagai tokoh pendidikan. Dan, Moh Yogie S Memet mantan Pangdam III/Siliwangi, yang juga Gubernur ke-11 Provinsi Jabar dan Menteri Dalam Negeri. Ada pula Osa Maliki, Ketua Umum PNI.
Douwes Dekker
Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi adalah tokoh pahlawan yang lahir di Pasuruan pada 1879 dan meninggal di Bandung pada 1950. Ia salah seorang pahlawan non-militer yang dimakamkan di TMP Cikutra.
Pada tahun 1912 mendirikan partai politik yang bernama "Nationale Indische Partij". Partai yang anti-kolonial dan bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia ini dibubarkan oleh pemerintah Belanda setahun kemudian (1913). Douwes Dekker ditangkap kemudian dibuang ke Suriname.
Douwes Dekker masih ada hubungan saudara dengan pengarang buku "Max Havelaar", yaitu Eduard Douwes Dekker yang juga dikenal sebagai "Multatuli" seorang tokoh Politik Etis yang merupakan adik dari kakeknya. Douwes Dekker juga memiliki darah Indonesia atau Jawa. (Sudirman Wamad - detikJabar, Selasa, 09 Agustus 2022 ).
Komentar
Posting Komentar