Keris sebagai Warisan Dunia


Pada tahun 1960-an, di Surakarta dibentuk Boworoso Tosanaji, perhimpunan pecinta keris yang bernaung di bawah Museum Radyapustaka. Tokohnya adalah Kangjeng Raden Tumenggung Hardjonagoro. Sepuluh tahun kemudian berdiri pula Panitikadga. Kemudian tahun 1981 di Yogyakarta dibentuk Pametriwiji (Pahemanan Memetri Wesi Aji) dengan to tokoh Hariyono Arumbinang dengan cabang di Jakarta. 

Organisasi ini didirikan untuk melestarikan budaya keris yang pernah hampir punah pada zaman pendudukan Jepang. 

Secara teratur mereka mengadakan sarasehan, dan berdiskusi mengenai ilmu perkerisan. Selain itu diselenggarakan pula berbagai pameran keris, dan pendirian museum keris. 

Pada tahun 1982, diselenggarakan Pekan Tosan Aji Indonesia di Taman Ismail Marzuki dengan dukungan para pecinta keris dari Jakarta , Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Semarang, dan Surabaya. 

Pusat Keris Jakarta yang berdiri tahun 1983, selain mengadakan pameran tetap , menerbitkan berbagai buku mengenai keris. 

Pada tahun 1985, Pusat Keris Indonesia mengadakan Pameran Keris Indonesia di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.

Tahun 1988 Penerbit Cipta Adi Pusaka menerbitkan Ensiklopedi Budaya Nasional mengenai keris dan senjata tradisional Indonesia lainnya.

Agar pelestarian budaya keris dapat dilakukan lebih intensif dan berkesinambungan, pada tahun 1989 berdiri Yayasan Keris Indonesia yang diprakarsai antara lain olehHaryono Suryo Guritno, Wiradat, dengan dukungan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Supardjo Rustam. (Bambang Harsrinuksmo, 2004 : 415)

Ada Sejak Abad ke-6

Keris, senjata tikam Indonesia, merupakan karya seni yang berkembang dari zaman ke zaman. Di Jawa disebut Keris, di Bali keris disebut kedutan, di Sumatra disebut karih, karieh, kres. Di Filipina disebut sundanf.

Keris  diperkirakan telah ada sejak abad ke-6. Pada abad ke-14 telah menyebar ke Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Kamboja dan Filipina.

Asal-usul Keris 

Prasasti yang menggambarkan adanya keris ditemukan di Desa Dawuku, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Prasasti diperkirakan tahun 500, menggunakan huruf Palawa, dan berbahasa Sanskerta. Selain tulisan, pada prasasti diukirkan pula berbagai bentuk benda tajam, antara lain kapak, sabit dan keris.

Istilah keris dapat ditemui pada prasasti berupa lempengan perunggu bertulis yang ditemukan di Karangtengah. Prasasti tahun 784 Saka / 824 Masehi itu antara lain juga memuat tulisan tentang kres atau keris. Kata kres yang disebut sebagai senjata pusaka juga terdapat pada prasasti Poh tahun 829 Saka / 907 Masehi.

Kesaksian Ma Huan

Ma Huan musafir Cina yang mengunjungi Kerajaan Majapahit pada abad ke-15 menulis dalam bukunya Yingyai Seeng-lan yang ditulis tahun 1416 H, bahwa kedatangannya di Majapahit bersama Laksamana Cheng Ho atas perintah Kaisar Yen Ysung dari Dinasti Ming. Menurut Ma Huan, para laki-laki di Majapahit baik tua maupun muda, mengenakan keris dan memuji keindahan pamor pada keris-keris itu.

Pembuatan Keris 

Bahan pembuatan keris terdiri atas besi tempa, baja, dan bahan pamor. Bahan pamor adalah senyawa besi dengan nikel dan sedikit titanium. Untuk menempa bahan-bahan itu menjadi sebilah keris, diperlukan arang kayu jati sedikitnya 400 kg. Untuk kualitas terbaik diperlukan arang sedikitnya 550 kg.

Mula-mula, besi bahan keris ditempa terus menerus untuk mengurangi kadar karbon yang terdapat pada senyawa itu. Pembersihan besi dengan penempaan itu disebut masuh. Sesudah itu, besi itu dicampur dengan pamor seberat 300 gram, dengan cara menempanya tumpang tindih berkali-kali. Proses ini disebut membuat saton. Sesudah penyatuan pamor selesai, barulah baja tipis disisipkan di tengah saton itu untuk memperkuat bilah keris. Pada saat ini, bobot bahan calon keris tinggal sekitar 1,5 kg. 

Calon keris itu lalu dibentuk menjadi tiga bagian utama, yakni wilahan, ganja dan pesi. Wilahan adalah bagian badan bilah keris; ganja adalah bagian pangkal keris; sedangkan pesi adalah bagian keris yang masuk ke hulu pegangannya.

Keindahan Keris 

Bentuk keris yang indah diperoleh dengan cara menempa, mengikir, serta menggerindanya. Selanjutnya keris mengalami proses penyepuhan dengan dipanaskan sampai suhu 550 derajat Celsius, lalu didinginkan secara mendadak dengan mencelupkannya ke dalam air yang telah dibubuhi ramuan tertentu. Kemudian keris di-warangi, yakni dilumuri dengan larutan warangan yang mengandung senyawa arsen sehingga keris berwarna hitam, sedangkan pamornya tetap berwarna putih. 

Dapur 

Dapur adalah tipe atau model bentuk bilah keris yang terbagi menjadi dua : model keris bentuk lurus dan yang berkelok-kelok. Setiap kelokan disebut luk. Luk biasanya tiga sampai 13 kelokan. Meski ada yang lebih dari 13 kelokan.

Dapur keris dengan luk ada yang diberi nama dapur Nagasasra, Sabukinten, Jangkung, Anoman, Pandawa Cinarita, Naga Siluman, Carubuk, Kidangsoka, Sempana, Panimbal, Paniwen, Parungsari, Sengkelat dll. 

Dapur keris lurus diberi nama dapur Tilam Upih, Brojol, Kalamisani, Jalak Sagutumpeng, Sinom dan Mahesa Lejer.

Nagasasra dan Sabukinten 

Nagasasra adalah sebutan bagi setiap keris yang mempunyai 13 luk dan memakai hiasan ukiran kepala naga di bagian pangkalnya. Badan naga meliuk-liuk mengikuti luk keris. Umumnya, keris berdapur Nagasasra dihias dengan kinatah emas. 

Sabukinten adalah sebutan bagi setiap keris luk 11 yang memakai sekarkacang dan sogokan rangka di bagian pangkalnya. 

Empu

Empu adalah gelar yang diberikan masyarakat bagi pandai keris yang karya-karyanya indah dan bermutu tinggi dan diangkat menjadi empu keraton serta mendapat jaminan hidup yang baik. 

Di kerajaan Pajajaran ada Empu Nyi Sombro. Di kerajaan Majapahit ada Empu Jigja, Empu Supandriya, Empu Pangeran Sendang Sedayu dll. Di kerajaan Mataram ada Empu Supa Anom, Empu Guling dll. Do Madura empu yang terkenal adalah Ki Kasa dan Ki Macan. Di Keraton Yogyakarta ada Empu Tarunadahana dan Empu  Supawinangun. Di Keraton Surakarta ada Empu Singawijaya, Empu Brajaguna, Empu Jayasukadga, dan Empu Lujuguna. (2004 : 412-415).

Empu Jeno Harumbraja masih berkarya di Yogyakarta. Sedangkan Empu Fausan Puspasukadga dan Empu Suparman Wirasukadga di Surakarta masih membuat keris.

Keris sebagai senjata tikam tradisional Nusantara  diakui oleh UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Kemanusiaan Lisan dan Nonbendawi pada tahun 2005.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Ibukota Pindah ke Yogyakarta

Partindo Di Bawah Sukarno