Kostrad
Komando Cadangan Strategis TNI-AD Dharma Putra
Komando Cadangan Strategis TNI-AD Dharma Putra lebih dikenal dengan singkatan Kostrad. Kostrad merupakan salah satu Komando Utama (Kotama) Mabes ABRI. Markas Komando Kostrad melakukan pembinaan dan operasi sekaligus, dengan tugas pokok : (1) Membina kesiapan operasi atas semua jajaran komandonya; (2) Menyelenggarakan operasi pertahanan keamanan tingkat strategik, sesuai dengan kebijakan Panglima ABRI.
Komando utama (Kotama) ini secara resmi dibentuk pada 6 Maret 1961, dipimpin oleh seorang Panglima Kostrad (Pangkostrad) yang berpangkat Mayor Jenderal.
Sebagai Kotama TNI-AD maupun Kotama Mabes ABRI, Kostrad dapat ditempatkan di bawah perintah sebuah Komando Gabungan ABRI.
Hingga kini Kostrad telah menyelesaikan beragam tugas nasional penting seperti Operasi Trikora tahun 1961-1962, Operasi Dwikora tahun 1964-1965, Operasi Penumpasan Gestok tahun 1966-1967, Operasi Penumpasan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS)/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) tahun 1966-1969,
Operasi Trisula tahun 1975 dan Operasi Seroja tahun 1975-1976.
Latar Belakang
Menurut Subagyo Sayogya, dalam sebuah organisasi kesatuan tempur dibutuhkan kesatuan-kesatuan tempur cadangan yang belum terikat dalam penugasan tempur tertentu. Komando cadangan (matra) angkatan harus mampu digerakkan sewaktu -waktu, dan oleh karena itu ditempatkan dalam status siaga militer yang lebih tinggi ketimbang unit-unit lainnya.
Sebenarnya kebutuhan akan pasukan mobil yang dipersenjatai lengkap sudah dihayati oleh pimpinan AD semenjak periode Agresi Militer Belanda I.
Komando Kesatuan Cadangan Tempur ADRI
Pada tanggal 5 August 1958 ada Penetapan 0-5, di mana pada setiap Komando Daerah Militer (Kodam) ditetapkan dan ditempatkan unit-unit operasional/tempur dalam jajarannya. Pada saat itulah dirasakan perlunya membentuk suatu Komando Kesatuan Cadangan Tempur ADRI/TNI-AD.
Tjaduad
Setelah usai menghadapi beragam operasi keamanan dalam negeri, negara menghadapi perjuangan pembebasan Irian Barat. Kepala Staf ADRI (Kasad) Jenderal Abdul Haris Nasution mengeluarkan keputusan No. 1067/12/1960 tertanggal 27 Desember 1960 tentang pembentukan Tjadangan Umum Angkatan Darat RI (Tjaduad).
Tak lama kemudian dibuatlah sebuah kelompok kerja yang terdiri dari : Brigjen Soeharto, Kol. Inf. Achmad Wiranatakusumah, Letkol Inf. Slamet Sudibjo, Letkol Inf. Soenggoro, Letkol Moenadi, Letkol Inf. Amir Machmud, Letkol Djoko Basuki.
Letkol Djoko Basuki menyusun organisasi intelejen Tjaduad dengan dibantu oleh sejumlah perwira seperti : Letkol Inf. Amir Judowinarno, Mayor info. Ali Moertopo, Mayor Suprapto, Mayor Soemitro, Mayor Moekadji, Kapten Isrohadi, dan seorang Bintara Staf yakni Sersan Mayor Sofjan Nurdin.
Korra I/Tjaduad
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri/Panglima ADRI No. Mk/Kpts 54/3/1961 tertanggal 6 Maret 1961 disahkanlah sebuah Korps Tentara Ke-1/Tjaduad dengan singkatan Korra I/Tjaduad. Korps inilah organisasi militer cikal-bakal Komando Cadangan Strategis TNI-AD (Kostrad).
Resmi Menjadi Kostrad
Pada 1 Desember 1962, Panglima Korra I/ Tjaduad Mayjen TNI Soeharto mengajukan Penelaahan Staf tentang Tjadangan Umum Angkatan Darat untuk mengkaji masa depan Tjadangan Umum Angkatan Darat di masa yang akan datang.
Pada 19 Februari 1963, Menteri Panglima Angkatan Darat, Mayjen TNI Achmad Yani menghapus Korra I/ Tjaduad dan membentuknya menjadi Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) melalui Kpts 178/2/1963.
Kedudukan Kostrad sesudah reorganisasi ABRI tahun 1985 adalah Sebagai Komando Utama Markas Besar ABRI yang berada langsung di bawah komando Panglima ABRI. (ENI, Jilid 9, 2004: 46-48).
Komentar
Posting Komentar