Komando Mandala Pembebasan Irian Barat


Pada 17 Agustus 1960, pemerintah RI memutuskan hubungan dengan Belanda dengan alasan Belanda tidak bersedia mengembalikan Irian Barat ke pangkuan RI. Sejak saat itulah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia melakukan persiapan yang serius untuk membebaskan Irian Barat. Konfrontasi dengan Belanda dimulai.

Pembelian Senjata

Pemerintah RI melakukan pembelian senjata secara besar-besaran dari Uni Soviet. Pembelian tersebut ditandatangani oleh Menteri Keamanan Nasional Jenderal A. H. Nasution pada 4 Maret 1961 di Jakarta. Pembelian ini dilakukan karena Amerika Serikat enggan memberi bantuan senjata kepada Indonesia.

Sementara itu Belanda juga meminta bantuan AS untuk memata-matai persiapan militer Indonesia. AS mengirim pesawat mata-mata ke atas kota Surabaya yang menjadi pangkalan utama Operasi Pembebasan Irian Barat .

Trikora 

Pada 11 Desember 1961 Presiden Sukarno membentuk Dewan Pertahanan Nasional (Depernas). Depernas inilah yang mengusulkan pembentukan Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat dan yang menyusun teks Trikora. Depernas juga mengusulkan pembentukan Provinsi Irian Barat dengan seorang Putra daerah sebagai Gubernurnya.

Pada tanggal 19 Desember 1961 Presiden Sukarno menyampaikan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada rapat raksasa di Alun-alun Utara Yogyakarta. 

Langkah militer pertama yang dilakukan adalah membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat pada tanggal 2 Januari 1962. 

Brigadir Jenderal Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Mandala, Kolonel (Laut) Soebono diangkat sebagai Wakil I Panglima Komando Mandala, Kolonel (Udara) Leo Wattimena diangkat sebagai Wakil II Panglima Komando Mandala, dan Kolonel Achmad Thahir diangkat sebagai Kepala Staf Gabungan dari Komando Mandala itu. 

Untuk mengorganisasi  segala kegiatan ekonomi dalam rangka pembebasan Irian Barat, pada tanggal 24 April 1962 dibentuklah Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE).

Peristiwa Aru

Pada tanggal 15 Januari 1962 terjadi Peristiwa Aru. Komodor Yos Soedarso gugur dalam pertempuran ini..

Operasi Amfibi Terbesar 

Antara bulan Maret  dan April 1962 dilakukan serangkaian operasi pendaratan melalui laut dan penerjunan dari udara. Operasi Banteng di Fak-fak dan Kaimana, Operasi Serigala di sekitar Sorong dan Teminabuan, Operasi Naga di sekitar Merauke, dan Operasi Jatayu di Sorong, Kaimana dan Merauke.

Direncanakan pula serangan terbuka ke Irian Barat dinamakan Operasi Jayawijaya. Untuk itu Angkatan Laut Mandala di bawah Kolonel (Laut) Soedomo membentuk Angkatan Tugas Amfibi 17, sedangkan Angkatan Udara membentuk enam kesatuan tempur baru.

Namun sebelum Operasi Jayawijaya dilaksanakan secara menyeluruh, di Markas Besar PBB di New York, tanggal 15 Agustus 1962, tercapai persetujuan antara pemerintah RI dan pemerintah Belanda mengenai pengembalian Irian Barat kepada pemerintah RI, yang dikenal sebagai Perjanjian New York. 

Pada tanggal 18 Agustus 1962 diperintahkan penghentian tembak menembak. 

Pada tahun 1969, dilangsungkan Pepera di Irian Barat, dan hasilnya rakyat Irian Barat bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Sudibjo, 2004 : 437-439).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Ibukota Pindah ke Yogyakarta

Partindo Di Bawah Sukarno