Kesepakatan Middelburg


Pada awal Maret 1962, Presiden Kennedy menolak memberi izin bagi Belanda untuk mengangkut kekuatan militernya yang akan diberangkatkan ke Irian Barat melalui Terusan Panama yang berada di bawah kendali AS. 

Menyadari bahwa setiap solusi militer yang tidak mendapat dukungan AS akan menjadi suatu bencana politik, Belanda setuju mengadakan pembicaraan dengan Indonesia. 

Akhirnya Jakarta dan Den Haag sepakat untuk berunding di bawah pengawasan PBB guna mencari solusi bagi persoalan Irian Barat. Negosiasi itu akan ditengahi oleh pihak ketiga, yakni Amerika Serikat. 

Perundingan diadakan di kota Middleburg, Virginia - tidak jauh dari Washing - dimulai pada tanggal 20 Maret 1962. 

Washington setuju untuk menjadi penengah dan menunjuk Ellsworth Bunker untuk duduk sebagai mediator. Bunker adalah Mantan Duta Besar AS untuk Argentina, Italia, dan India, yang nantinya menjadi Duta Besar AS untuk Vietnam.

Pemerintah Belanda diwakili oleh Dr. Jan H. van Royen Duta Besar Belanda untuk AS dan perwakilannya di PBB, C.W.A. Schurman, sementara pemerintah Indonesia diwakili oleh Adam Malik, Duta Besar RI untuk Uni Soviet, dan Sujarwo Condronegoro, yang adalah Kepala Direktorat untuk Urusan Eropa di Departemen Luar Negeri RI. ( Jones, 207).

Tak lama setelah dibuka , perundingan mengalami jalan buntu. Indonesia menuntut pengalihan wilayah Irian Barat kepada Indonesia menjadi syarat mendasar untuk pembicaraan lebih jauh. Belanda menuntut kesepakatan yang memuaskan dalam penentuan nasib sendiri rakyat Papua. Akhirnya kedua belah pihak meninggalkan Middleburg. Pembicaraan kemudian ditangguhkan.  (FRUS, 1861-1963, Vol. XXIII, 549-555).

Perundingan tersebut meletakkan dasar bagi pembentukan Otoritas Eksekutif Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNTEA) untuk memerintah wilayah itu sebelum pengalihan administrasi kepada Indonesia.

Kerangka kerja yang dirancang di Middleburg secara langsung berujung pada penandatanganan Persetujuan New York pada tanggal 15 Agustus 1962.

Adam Malik di kemudian hari terpilih sebagai Presiden ke-26  Majelis Umum PBB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Ibukota Pindah ke Yogyakarta

Biografi Singkat Muso