Yosaphat Soedarso Gugur di Laut Arafuru


Dalam pertempuran di Laut Aru, KRI Macan Tutul tenggelam bersama Komodor Yos Soedarso, Kapten Memet Sastrawirya, Kapten Wiratmo, beserta 23 awak lainnya. Waktu itu, karena lawan terlampau kuat, KRI Macan Tutul sengaja mengumpankan dirinya untuk melindungi dua kapal lainnya agar dapat meloloskan diri. Yos Sudarso berpesan : "Kobarkan terus semangat pertempuran!". (ENI 2004 : 174).

Biografi Yos Soedarso 

Yos lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada  tahun 1925. Setelah tamat  HIS, ia meneruskan ke HIK milik misi Katolik di Muntilan, Jawa Tengah. Sekolah itu terhenti karena pendudukan Jepang sehingga ia pindah ke Sekolah Pelayaran Tinggi di Semarang. Selanjutnya ia mengikuti Latihan Perwira Angkatan Laut, Pendidikan Kadet di Kalibakung, Tegal, dan Latihan Spesial Operasi di Sarangan, Magetan.

Pada zaman Jepang ia menjadi Mualim II pada Gyo Osama Butai pada usia 19 tahun. Sesudah bergabung dengan BKR-Laut pada awal revolusi, ia menjadi perwira penyelidik militer khusus, perwira staf umum III, dan perwira penghubung pada central joint board.

Setelah penyerahan kedaulatan, ia mendapat kepercayaan mengambil alih pimpinan terhadap kapal-kapal Belanda. Berturut-turut ia menjadi perwira navigator pada KRI Patiunus, komandan KRI Banteng, perwira KRI Gajah Mada, komandan KRI Rajawali, komandan KRI Alun-alun, dan komandan KRI Pattimura. 

Jabatan Yos yang lain adalah hakim perwira pada Pengadilan Tentara Seluruh Indonesia (1958), Deputi I KSAL (1959), anggota Dewan Perancang Nasional (1961) sekaligus anggota MPRS mewakili Angkatan Laut.

Pada tanggal 15 Januari 1962 Komodor Yos Soedarso yang sedang berada di KRI Macan Tutul untuk melaksanakan patroli di Laut Arafuru diserang Belanda dan tenggelam tertembak meriam lawan. Yos Soedarso Gugur bersama 25 prajurit lainnya. 

Yos Soedarso mendapat beberapa tanda jasa meliputi Bintang Jasa Dharma, Bintang Sewindu Angkatan Perang, dan delapan Satya Lencana. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Laksamana Muda Laut. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Tahun 1973 dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. (Soebagijo I.N, 2004 : 139-140).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Ibukota Pindah ke Yogyakarta

Biografi Singkat Muso