Postingan

The History of Java

Buku The History of Java karya Thomas Stamford Raffles seorang administratur kelahiran Inggris telah menjadi salah satu sumber sejarah paling penting untuk mengetahui kehidupan masyarakat Jawa di masa lalu. The History of Java diterbitkan pertama kali pada tahun 1817 dalam dua volume. Volume Pertama berisi tentang inti buku itu sendiri secara lengkap, sedangkan Volume Kedua berisi informasi tambahan dan lampiran. Isi buku The History of Java mencakup keadaan geografis, informasi mengenai penduduk asli Jawa, keadaan pertanian, kepercayaan dan upacara keagamaan, bahasa serta beberapa hal menarik lainnya. Pada bagian pengantarnya, Raffles melaporkan kepada Tuan Regent mengenai perkembangan usaha VOC dan pemerintahan Franko-Belanda yang dipimpin Marshal Daendels dan keuntungan usaha yang dibuatnya selama memerintah di Jawa sebelum diambil alih Inggris. Daendels memperlihatkan pemasukan dari Jawa sebesar 10.789.000 rix-dollar dengan pengeluaran 5.790.000 yang berarti total keuntungan seb...

Masa Kekuasaan Daendels dan Raffles di Jawa

Meski dalam waktu yang singkat gagasan Revolusi Perancis dan Pencerahan Inggris sampai di Jawa ketika Gubernur Napoleonis bernama Marsekal Daendels (1807-1811) diganti oleh Gubernur Inggris Stamford Raffles (1812-1816). Pada tahun 1807 Napoleon mengirim Marsekal Daendels ke Jawa untuk mempertahankann ya dari Inggris. Dikenal sebagai Mareskalek Guntur (Mas Galak), Daendels menimbulkan kepahitan di pedesaan Jawa. Marshall Helman Willem Daendels memaksa membuat jalan (dari Anyer sampai Panarukan) dan benteng dan kerja paksa. Pengecoran logam di Semarang diubah menjadi pabrik peluru. Modalnya didapat dari tanah negara yang dijual kepada Belanda dan Cina dan kemudian disebut sebagai tanah partikulir. Raja Jawa tersinggung saat marsekal meminta tanah, uang dan jalan masuk hutan jati. Pada bulan Agustus 1812 Inggris menyerang Jawa menaklukkan pemerintahan Franko-Belanda menyerbu keraton Yogyakarta dan mengirim kakek Pangeran Dipanegara (Sri Sultan Hamengkubuwana II) ke pengasingan di Penang,...

Raja Ali Haji Dari Pulau Penyengat

Di manakah Penyengat ? Pulau Penyengat terletak sekitar satu mil laut dari kota Tanjung Pinang di Pulau Bintan. Untuk tiba di sana diperlukan beberapa jam perjalanan melalui laut dari Batam atau Singapura menuju kota Tanjung Pinang di Pulau Bintan terlebih dahulu sebelum menyebrang dengan perahu motor kecil ke dermaga di pelabuhan Penyengat. Menurut cerita, dulu banyak pelaut singgah ke pulau ini untuk mengambil air bersih. Saat itulah mereka diserbu sekawanan lebah dan merekapun disengat oleh lebah-lebah tersebut. Dari sinilah asal muasal nama Pulau Penyengat. Jejak kebesaran kerajaan Riau-Lingga masih terasa di Penyengat sebagaimana terekam pada bangunan-bangun an megah masjid, istana, kantor dan makam Raja Ali Haji di mana Gurindam 12 dituliskan pada dinding-dinding nya. Tiba di Penyengat kita bisa berkeliling pulau yang tidak terlalu besar dengan becak bermotor. Tidak ada kendaraan roda empat di sana, setidaknya sampai tahun 2007 ketika terakhir saya berkunjung ke sana. --- Setelah...

Para Petarung Nusantara Abad Ke-17

1. Arung Palakka.  Pada tahun 1660 Arung Palakka adalah satu di antara sekitar 10.000 orang Bugis Bone yang memberontak tapi berhasil ditumpas pihak Makasar. Lalu dia dan beberapa orang lainnya mencari perlindungan di Pulau Butung. VOC mengabulkan permintaan mereka untuk tinggal di Batavia. Di sana mereka menjadi serdadu VOC dan membuat pihak Belanda terkesan pada ketrampilan perang mereka. Setelah Aru Palakka meninggal banyak orang Bugis bertempur dengan Kapten Jonker sebagai tentara bayaran Belanda bahkan masuk ke dalam kemiliteran Belanda di Mataram. 2. Kapten Jonker. Pada tahun 1655 pimpinan orang Ambon di Batavia adalah seorang muslim bernama Kapten Jonker. Dia telah bertempur di pihak VOC melawan orang-orang Portugis di Timor dan Sri Lanka, melawan orang-orang Makasar, orang-orang Banten di Batavia, orang-orang Minang di Sumatra. Di Jawa dia bukan hanya bertempur melawan Trunajaya melainkan menawannya sendiri pada akhir tahun 1679. Pada Agustus 1689 terbongkar komplotan yang ...

Syekh Yusuf Makasar

Pada tahun 1671 orang-orang Makasar tiba di Banten. Sayangnya terjadi perselisihan antara Sultan Banten dan orang-orang Makasar karena perilaku di antara mereka. Maka orang orang Makasar pun pergi ke Jawa Timur di bawah pimpinan Karaeng (Pangeran) Galesong membantu pemberontakan Trunajaya. Di antara mereka yang datang ke Banten terdapat seorang ulama yang paling terkenal dalam sejarah Indonesia, Syeikh Yusuf Makasar (1626-1699). Pada tahun 1644 ia menuntut ilmu di Aceh dan masuk tarekat sufi Qadiriyyah. Dari Aceh ia pergi ke Yaman dan bergabung dengan tarekat Naqsyabandiyyah . Selanjutnya ia belajar beberapa tahun di Mekah dan Madinah. Dua gurunya dari tarekat Naqsyabandiyyah adalah Muhammad Abd Al-Baqi dan Ibrahim al Kurani. Al Kurani mengajarinya tarekat Syattariyyah. Di tanah Arab, Syekh Yusuf juga bergabung dengan tarekat Khalwatiyyah. Ia kembali ke Indonesia tahun 1672 tidak ke Makasar tapi ke Banten. Di Banten ia memperkenalkan tarekatnya sendiri Khalwattiyyah-Y usuf. Ketika ora...

Persebaran Orang Bugis Mandar Makasar

Di Barat daya Sulawesi ada tiga suku serumpun dan memiliki aksara sama : Bugis-Makasar-M andar. Mereka datang dari berbagai leluhur ghaib masing-masing. Setelah Makasar hancur pada tahun 1669, Bone menjadi kerajaan penting. Orang-orang Bugis menyebar. Orang-orang Bugis terutama laki-laki Wajo bersekutu dengan orang Makasar Gowa dalam perang. Mereka menjadi prajurit tangguh di Nusantara. Di Jawa tercatat nama Aru Palakka dan Karaeng (Pangeran) Galesong yang bermusuhan satu sama lain. Setelah Aru Palakka meninggal banyak orang Bugis bertempur dengan Jonker sebagai tentara bayaran Belanda bahkan masuk ke dalam kemiliteran Belanda di Mataram. Menurut Reid, periode kekuasaan kerajaan lemah memungkinkan cendikiawan dan lembaga majemuk melakukan percobaan mencapai demokrasi. Orang Bugis Wajo mengembangkan ideologi yang menuntut setiap pemimpin baru mengakui kebebasan yang dinamakan "am-marradeka-n gena", kebebasan mengutarakan pendapat dan bergerak baik di dalam maupun di luar kera...

Perang Cina

Sebuah peta yang dibuat oleh Willem Remmelink dari Japan-Netherlan ds Institute, Tokyo, untuk Indonesian Heritage yang disusun Anthony Reid dari Australian National University, Canberra, menggambarkan serbuan orang Cina atas seluruh markas Belanda di Jawa pada tahun 1740-an mulai dari Tegal di Barat sampai Pasuruan di Timur. Kota-kota yang diserbu orang Cina dan kemudian dibantu orang Jawa, adalah Batavia, Bekasi, Tegal, Semarang, Kartasura, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Juwana, Rembang, Ponorogo, Surabaya, Pasuruan. Apa yang disebut sebagai Perang Cina ini bisa juga dikatakan sebagai atau setidaknya pemicu Perang Jawa adalah pemberontakan orang-orang Cina di Jawa yang dimulai dari pembantaian orang-orang Cina di Batavia oleh Kompeni. Peningkatan gelombang orang Cina ditambah memburuknya keadaan ekonomi di Batavia sejak akhir abad ke-17 melahirkan krisis. Orang Cina menjadi korban utama terutama pada sektor industri gula akibat keterbatasan lahan dan berkurangnya ekspor akibat ditutupny...