Postingan

Poedjangga Baroe.

Poedjangga Baroe (PB) adalah majalah bulanan kebudayaan umum dan kesusastraan yang terbit pertama kali bulan Juli 1933. Pimpinan majalah ini adalah Armijn Pame dan Sutan Takdir Alisjahbana dengan pembantu tetap Sanusi Pane, Dr Mandank, Amir Hamzah dan Ipih A. Hadi. Semboyan majalah inu semula "majalah kesustraan dan bahasa" lalu pada tahun 1935 menjadi "pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan dan soal masyarakat umum" dan akhirnya pada tahun 1936 menjadi "pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan dan persatuan." Setelah terbit bulanan PB, kaum muda beramai-ramai menulis dalam wadah baru yang menampung suara-suara baru dalam kesusastraan. Mereka menulis puisi baru berbentuk soneta, kwartrin, prosa berirama, atau tonil (drama), cerita pendek, kritik sastra, roman baru, esai dan sebagainya. Majalah ini mendapat reaksi keras dari para penulis tua yang tradisional. Hasil menyolok majalah ini adalah...

Partai Islam Indonesia (PARII)

PARII lahir sebagai reaksi terhadap skorsing PSII terhadap Dr Soekiman dan kawan-kawan pada tahun 1932. Cabang-cabang yang tidak menyetujui tindakan PSII itu membentuk panitia yang disebut Persatuan Islam Indonesia dengan dasar Islam, nasionalisme dan swadaya. Panitia ini bekerjasama dengan PSII Merdeka Yogyakarta membentuk Partai Islam Indonesia (PARII) di bawah pimpinan Dr Soekiman dan Wali Alfatah. Selama setahun sejak berdirinya, PARII tidak melakukan kegiatan sampai muncul kembali pada tahun 1938 dengan singkatan baru PII dengan tokohnya antara lain Wiwoho, Dr Soekiman, Ahmad Kasmat, Wali Alfatah, Kiai Mas Mansoer, Kiai Haji Hadikoesoemo, Abdul Kahar Muzakkir, Kiai Haji Faried Ma'roef dan Haji Muhammad Rasjidi. Pendukung utama partai ini adalah kalangan Muhammadiyah (Effendi, 2004: 201).

Perpecahan Dalam PSII

Setelah Aksi Umum yang keras, pada tahun 1932 terjadi perpecahan pada PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia), antara kelompok Tjokroaminoto-A gus Salim dan kelompok Sukiman- Suryopranoto. Kelompok Tjokroaminoto-A gus Salim yang menekankan asas agama mendapat tantangan dari kelompok Sukiman-Suryopr anoto, yang lebih mengutamakan masalah kebangsaan. Konflik ini memuncak dengan dikeluarkannya kelompok Sukiman dari PSII pada akhir tahun 1932. Pada bulan Mei mereka mendirikan PARII (Partai Islam Indonesia). Sampai tahun 1934, Tjokroaminoto dan Agus Salim masih tetap duduk sebagai pemimpin puncak partai, dan PSII masih memiliki 140 cabang di seluruh Indonesia. Setelah Tjokroaminoto meninggal dunia tahun 1934, perpecahan di tubuh PSII makin menjadi-jadi. Abikusno Tjokrosuyoso naik menggantikan Tjokroaminoto dan memegang kekuasaan tertinggi dalam Lajnah Tanfidhyah, sedangkan Agus Salim memegang Dewan Partai. Hubungan pribadi keduanya kurang mesra, sehingga timbul ketegangan antara mereka. Kete...

Parindra

Setelah tahun 1934 gerakan antikolonialism e radikal yang didasarkan pada asas nonkooperasi benar-benar padam. Tetapi metode-metode yang bersifat kooperasi belum sepenuhnya tertutup. Pada bulan Desember 1935 partai-partai yang moderat berfusi. Partai Indonesia Raya (Parindra) yang didirikan pada akhir tahun 1935 ini merupakan hasil fusi dari Budi Utomo, PBI (Pesatuan Bangsa Indonesia), dan beberapa organisasi kecil lainnya, seperti Kaum Betawi, Tirtajasa, Sarekat Sumatra, Kaum Minahasa dan lain lain. Parindra semula menganut asas perjuangan kooperasi dan mengirim wakil-wakilnya dalam Dewan Volksraad. Di bawah kepemimpinan Dr Raden Soetomo, Mohammad Hoesni Thamrin, Mr Soesanto Tirtoprojo, Soekardjo Wirjopranoto dan Woerjaningrat, Parindra menjadi partai yang berpangaruh di dalam Volksraad. Kegiatan sosial organisasi ini antara lain menumbuhkan perkumpulan kerjasama antara petani, mendirikan bank yang memberikan pinjaman dengan bunga ringan kepada petani. Pada tahun 1937 Parindr...

Persatuan Bangsa Indonesia

PBI lahir di Surabaya pada bulan Januari 1931 sebagai hasil reorganisasi Indonesische Studieclub, mengingat makin rumit dan makin meluasnya permasalahan yang ditangani klub belajar yang dipimpin oleh Dr Sutomo itu. Tujuan kerjanya adalah memajukan rakyat dan tanah air atas dasar nasionalisme Indonesia. Pada tahun 1932 PBI telah menambah cabangnya dari 15 menjadi 30 dan memiliki pengaruh cukup besar di kalangan masyarakat. PBI mengusahakan penyediaan lapangan kerja; meningkatkan kerajinan rakyat, perdagangan dan industri, pertanian, koperasi, pendidikan dan peningkatan kesehatan rakyat. PBI menghasilkan lembaga-lembaga  penting seperti poliklinik, Gedung Nasional Indonesia, bank desa, Bank Nasional Indonesia dan sejumlah koperasi. Sewaktu masih berbentuk klub studi, pada tahun 1930 PBI mendirikan Persatuan Koperasi Indonesia dan sebuah kamar dagang bernama Majelis Saudagar. Pada tahun 1932 PBI mendirikan Kahuripan, sebuah badan pelengkap dan pengawas, sebuah kantor penyimpana...

ZEVEN PROVINCIËN

Suatu pemberontakan meletus di atas kapal angkatan laut Zeven Provinciën milik Belanda pada tanggal 5 Februari 1933 ketika kapal tersebut berada di lepas pantai Sumatra. Penyebabnya adalah penurunan gaji semua pegawai pemerintah sebanyak 17% yang diumumkan pada tanggal 1 Januari 1933. Penurunan itu merupakan bagian usaha pemerintah untuk memperkecil jurang antara pendapatan dan pengeluaran ketika depresi ekonomi menyebabkan pendapatan pemerintah menurun secara drastis. Kebijaksanaan ini tidak dapat diterima oleh pegawai pemerintah, baik yang berkebangsaan Eropa, Indonesia maupun Eurasia. Pemberontakan itu dapat diatasi dengan pemboman melalui pesawat udara angkatan laut Belanda. Insiden itu mengakibatkan terkejutnya lapisan tertinggi pemerintah Belanda. Dua hari setelah kerusuhan itu, suatu pawai kesetiaan dilangsungkan di depan istana gubernur jenderal di Jakarta. Pada kesempatan itu Gubernur Jenderal de Jonge mengucapkan pidato mengenai pelajaran yang bisa diambil dari kerusuh...

Lukman

Pada bulan September tahun 1932, pemerintah mengumumkan suatu Wilde Scholen Ordonnantie (Peraturan Sekolah-sekolah  Liar). Wilde Scholen Ordonnantie (Peraturan Sekolah-sekolah  Liar) mengharuskan adanya izin dari pihak penguasa sebelum sebuah sekolah swasta yang tidak mendapat subsidi pemerintah (yang menempatkan suatu sekolah di bawah pengawasan pemerintah) dapat didirikan. Timbullah protes yang bersifat nasional atas campur tangan terhadap sekolah-sekolah  swasta ini. Salah satu pengunjuk rasa adalah seorang anak laki-laki berusia 16 tahun bernama Lukman. Ia pun harus mengikuti ayahnya dibuang ke Digul. MH Lukman adalah orang kedua (setelah Aidit) dalam kepemimpinan PKI, lahir di Tegal 1920, Wakil Ketua DPR-GR tapi hidup miskin. Istrinya sempat menjual celana milik Lukman untuk bisa membeli daging ayam. Tantiana putrinya bersaksi seumur-umur baru sekali makan di restoran. Itupun hanya membeli 3 porsi bakso untuk berlima tanpa tambahan untuk memesan minuman. MH di depan ...