Penyerbuan Pekanbaru



Sumber untuk penulisan ini berasal dari Memoar Supeni “Napak Tilas Bapak-bapak Pejuang Menuju Indonesia Merdeka Adil dan Makmur.” Untuk melengkapinya saya menggunakan materi dari  buku “Indonesia Melawan Amerika Konflik Perang Dingin 1953-1963” tulisan Baskara T. Wardaya, SJ., dan “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004” tulisan Ricklefs. 

Pada suatu malam di bulan Februari 1958, asisten atase AD AS di Jakarta, George Benson, dibangunkan oleh deringan telepon yang datang dari Kolonel Yani, Deputy Pertama KSAD. Keduanya pernah bertemu secara singkat di US Army Command and General Staff College. Yani meminta peta-peta dari daerah-daerah tertentu di Sumatra dan selama satu jam mereka membahas suatu invasi ke Sumatra. Keduanya tidak mengetahui bahwa pada waktu itu ada orang-orang AS memberikan bantuan kepada para pemberontak, yakni PRRI / Permesta.

Pada awal bulan Maret 1958, para pemberontak mengetahui bahwa Jenderal Nasution siap bergerak melawan mereka. PM PRRI Syafrudin Prawira Negara penuh percaya diri, dan meramalkan bahwa invasi ke Sumatra akan merupakan nafas terakhir Presiden Sukarno. 

Para pemberontak menduga bahwa Pelabuhan Padang di pantai barat  akan menjadi sasaran pertama, sebab kota itu ditembaki meriam pada tanggal 10 Maret. Ternyata Nasution melancarkan serangannya ke Pekanbaru, pusat dari lapangan minyak terkaya di Indonesia, yang dioperasikan oleh Caltex (Standard Oil of California and Texaco). 

Sebelumnya, Kedutaan Besar AS diberitahu oleh PM Djuanda agar mengungsikan karyawan AS  dari daerah itu. 

Jalannya Serangan Atas Pekanbaru

PM Djuanda mengirim telegram kepada Nasution untuk memulai serangan. Nasution menggerakkan satu batalyon Diponegoro dari Jawa Tengah dan satu batalyon Siliwangi dari Jawa Barat dari Laut Jawa. Mereka menggunakan jalan darat dan kemudian melalui Sungai Siak menuju Pekanbaru. Satu kompi pasukan parakomando disiapkan jika pasukan pemberontak mendekati Pekanbaru. 

Pada suatu malam Nasution mendapat laporan dari pilot pesawat Catalina bahwa ada pesawat besar dengan empat mesin nampak menjatuhkan sesuatu dekat Pekanbaru, yang diduga sebagai pesawat AS. Sebagai respon, satu kompi pasukan parakomando (RPKAD) di bawah Letda Leonardus Benjamin (Benny) Moerdani diterjunkan di lapangan udara Simpangtiga, Pekanbaru. Pasukan pemberontak menyangka bahwa parasut-parasut yang turun adalah bantuan untuk mereka. Ketika mereka menyadari bahwa itu adalah pasukan parakomando RI, pasukan pemberontak melarikan diri. 

Pasukan pemberontak yang melarikan diri meninggalkan delapan puluh truk  yang berisi peti-peti berisi peralatan militer seperti bazooka, senapan recoilles dan senjata-senjata lain, beserta amunisi, uang dan makanan. 

Begitu lapangan udara diamankan oleh pasukan Benny Moerdani, pesawat  transpor menurunkan pasukan-pasukan tambahan. Dalam beberapa jam pasukan pemerintah merebut Pekanbaru, dan dalam beberapa minggu mereka secara efektif seluruh Sumatra Tengah kecuali bagian timurnya.

Direbutnya senjata-senjata bantuan AS oleh pasukan pemerintah tentunya memalukan Dulles bersaudara. 

Setelah pasukan pemerintah begitu mudah menduduki Sumatra bagian tengah, pejabat-pejabat AS di Jakarta dan Washington tergerak untuk mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan perubahan dalam kebijakan. 

Memorandum Gabungan Kepala Staf Angkatan Perang AS

Dalam memorandum tertanggal 8 April 1958 kepada Menteri Pertahanan, Gabungan Kepala Staf Angkatan Perang AS menyatakan keprihatinannya mengenai PRRI dan pengaruh yang makin besar yang diperoleh Uni Soviet melalui masuknya kapal-kapal dagang, awak kapal dan persediaan serta pesawat udara Rusia yang akan tiba. Mereka merekomendasikan aksi terang-terangan guna menjamin keberhasilan kaum pemberontak dan pemadaman unsur-unsur pro-komunis dalam pemerintahan Sukarno. 

Mereka mempersiapkan langkah-langkah : (1) pengakuan keadaan peperangan kalau pemerintah gagal menghalau para pemberontak ke gunung; (2) pemisahan PRRI  diikuti dengan pengakuan AS dan mungkin ada jaminan akan kemerdekaan; (3) kemungkinan akan ada kerusakan begitu besar terhadap milik AS sehingga pasukan AS harus dikirim masuk. 

Sementara itu Duta Besar Inggris menyarankan pendekatan berlainan yakni membuka celah-celah di pihak pemerintah melalui pendekatan kepada Jenderal Nasution. 

Duta Besar AS di Jakarta, Jones, percaya bahwa perwira-perwira pro-AS masih memegang imbangan kekuatan di AD namun hal itu bisa berbalik karena dukungan AS terhadap para pemberontak. Ia merekomendasikan agar AS mengumumkan akan memenuhi permohonan Indonesia yang sudah lama diajukan, yakni perlengkapan militer, jika pertikaian sudah selesai. Rekomendasi lainnya adalah mengundang Jenderal Nasution ke AS. 

Jatuhnya Padang dan Bukittinggi

Sewaktu pejabat-pejabat AS terlibat dalam diskusi tentang kebijakan, tentara Indonesia sedang mematahkan perlawanan terorganisasi dari para pemberontak di Sumatra. Pada tanggal 17 April 1958 suatu serbuan dari laut, udara dan darat berhasil merebut pelabuhan PRRI yang utama, Padang, hanya dalam beberapa jam pertempuran. 

Pada tanggal 4 Mei 1958, ibukota PRRI, Bukittinggi, jatuh ke tangan pemerintah. Pemimpin PRRI melarikan diri ke hutan, dan kepemimpinan pemberontak jatuh ke kelompok Permesta di Manado, Sulawesi Utara (Supeni, 2001 : 316-321).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Struktur Pemerintahan Sipil Pada Masa Pendudukan Jepang

Kasman Singodimedjo (1908-1982)